Jumat, 19 Oktober 2012

Senandung Do'a

Ya Allah, Tuhan Sekalian Alam, . . .  
Ampunilah dosa kami, dan dosa ibu bapak kami
Kasihilah keduanya, sebagaimana mereka telah mengasihi kami semenjak kecil

Ya Allah, Tuhan Sekalian Alam, . . .  
Lapangkanlah jalan hidup kami dunia dan akherat
Bukalah pintu rizki kami, dekatkan jika masih jauh, turunkanlah jika di langit, keluarkan jika masih dalam perut bumi, dan mudahkanlah jika sulit.

Ya Allah, Tuhan Sekalian Alam, . . .  

Tunjukkanlah bagi kami yang benar itu benar dan yang salah itu salah
Kemudian tetapkanlah hati kami untuk menegakkannya

Ya Allah, Tuhan Sekalian Alam, . . .  
Tuntunlah putra putri kami di jalanMu, dan jalan bagi orang-orang yang Engkau ridhoi Terangi kehidupannya kelak dan jadikanlah mereka anak-anak yang berguna

Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Segala2nya
Amin3x Ya Rabbal Alamin

Sabtu, 13 Oktober 2012

Bidadari Kecil

Sejak kecil saya memang suka main bola, tepatnya hobby banget. Waktu itu, hampir tiada hari yang terlewatkan tanpa bermain bola. Mungkin faktor genetik juga ya, karena setahu saya bokap juga dulu suka maen bola.
Meskipun tidak hebat-hebat amat, tapi sejak SD saya sering ikut dalam kompetisi. Agustusan merupakan event yang paling seru, karena  kami selalu bertanding disitu.  Banyak kemenangan sudah kami dapatkan, namun semua lenyap tak berbekas. Hanya satu yang cukup hangat dalam ingatan, waktu itu sering terlihat "bidadari kecil" yang menyemangatiku. Terus bersorak, bahkan terkadang melompat dan berlari . . .
Terasa begitu indah semua itu . . .
I miss u honey . . . 

Rabu, 10 Oktober 2012

Special Women in My Life

Waktu itu dia memang sangat dekat
Bahkan kata teman-temanku, "terlalu dekat untuk disebut sahabat"
Tapi aku rasa semua telah terjaga dengan sempurna
Karena sesungguhnya dia tipe perempuan terhormat
Sehingga tak terbersit sedikitpun, apalagi keberanian walau sekedar tuk menciumnya . . .
Thanks Good

Rabu, 22 Agustus 2012

Bertani Padi




Land
Land Agriculture
Semoga berhasil....

Dream



Oriza Sativa
Aku menggantungkan kebahagiaan mereka padamu ya Robbi . . .

Senin, 20 Agustus 2012

The Way of My Live

Free
Tommy Garden
Aku menanam semua ini untukmu...
dan aku bagikan sebagian dari yang diberikan untuk kita... juga untukmu... 

Perjalanan ini sudah cukup panjang, entah sudah berapa kali aku terjatuh dan terbangun. Tapi aku merasa belum maksimal meraih impian. Selalu merefleksi, bahwa semua itu tak mungkin hanya dengan bim-salabim, melainkan harus bertahap... dengan proses.
Yang terpenting proses itu benar menuju impian.
Mungkin juga akan banyak kendala hambatan yang merintang, terutama godaan yang justru seringkali kuasa membelokkan arah. Sehingga harus lebih fokus dalam melangkah kedepan.

Hidup laksana game atau permainan, jika tidak terkendali dengan cerdas maka akan berujung pada kekalahan yang menimbulkan sesal dan menyakitkan. Tapi harus diingat juga bahwa hidup bukanlah sesuatu yang boleh dipermainkan sembarangan. Dalam hidup juga terkandung jutaan aura dan rasa, yang menyatu dan melibatkan mata, hati, dan pikiran lainnya. Karena itu dengan memaksimalkan sebagai pemberi manfaat dan bukan sekedar penerima, mungkin akan jauh lebih baik . . .

Senin, 13 Agustus 2012

Wajah LSM di NTB

Di awal dekade 2000-an, saya pernah membaca sebuah "tulisan misterius" yang beredar di internet, dan menjadi perbincangan hangat di kalangan teman seperjuangan. Judul tulisan itu kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Saya menyebutnya misterius karena, pertama; substansi tulisan itu bernada reaksi terhadap program yang pada waktu itu cukup populer di wilayah ini, dan kedua; sang penulis tidak meninggalkan jejak "identitas" sedikitpun pada karya tulisnya itu.

Ungkapan yang disampaikan dengan cara sembunyi-sembunyi tentu menimbulkan berbagai macam praduga. Terutama sekali menyangkut siapa dia dan apa sejatinya yang diinginkan oleh tuan tokoh sang penggugat? Pertanyaan stereotifnya, mungkinkah respon tersebut buah dari ketidaksempatan mengakses apa yang diinginkan? dsb...? Menimbang beberapa analisis dan menyimak dari gaya tulisannya, memang terlintas beberapa nama yang diduga kuat sebagai aktor utama. Hanya saja, tidak akan pernah ada bukti yang kuat untuk menunjuk hidung sang penggugat misterius tersebut.

Kali ini, saya mencoba menulis dengan judul yang serupa. Tetapi tentu bukan counter attack terhadap tulisan itu, melainkan lebih dihajatkan untuk mendokumentasikan kondisi saat ini. Sebagai refleksi dan pembelajaran bersama boleh jadi hal ini memberi warna penting. Karena dari pengamatan sejak satu dekade terakhir, saya mencatat beberapa penampakan LSM di NTB, antara lain: ada yang ber-LSM sebagai tempat menempa diri dan mencari pengalaman, ada yang ber-LSM sebagai batu loncatan, ada yang ber-LSM sebagai sampingan, ada yang ber-LSM sebagai tumpuan, ada yang ber-LSM sekedar tempat bermain, ada yang ber-LSM dengan strategi bersolo karier, ada yang sangat idealis dan menjadi pertapa di lembaganya, ada yang hidup segan pingsan juga nggak jelas, ada yang pergi karena sudah naik pangkat, dll...

Dinamika yang menjadi latar belakangnya pun sangat beragam. Dan kita sering mendapatkan jawaban bahwa semua itu atas nama perubahan dan kenyataan yang menstandarkan segala seuatu secara realistis.

    Minggu, 05 Agustus 2012

    Pusaka Yang Hilang

    Satu persatu pusaka itu pergi
    Terselip pelajaran yang tiada terkira
    Sebatas do'a yang kupersembahkan
    Mengiringi langkahmu...
    Kiranya TYME, memberi jalan yang terang...
    Menegarkan langkah arungi bahtera
    Menjunjung tinggi amanat yang kau titipkan
    Pada kami...
    Selamat Jalan Wahai Kanda...
    Kami pasti merindukan semuanya

    Senin, 30 Juli 2012

    Munajat Pagi

    Bercengkrama diantara kombinasi D, G & A
    Teralun varian nada yang indah
    Tak kalah syahdu dari orchestra sang kampiun 
    Singgah di beberapa titik imajiner "tanpa harus lari terlalu jauh"
    Semakin bersensasi walau tak bersyair 
    Irama itu laksana hati yang tercurah 
    Mengalir bebas dan merdeka 
    Mengiringi angan yang menerawang
    Diantara ketakjuban pada riangnya maha pagi
    Ada apa di sana...??? sebuah tanya yang termunajatkan padaNYA
    Yang terjawab... walau dengan isyarat yang membisu

    Jumat, 27 Juli 2012

    Pada Waktu Yang Tak Bersahabat

    Sebaiknya kau simpan perhiasan itu, karena mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menggunakannya
    Biarlah waktu yang menjawab, diantara doa-doa yang termunajatkan kepadaNYA 
    Tepislah kerinduan yang membayangi itu, terima sebagai pondasi yang mempertebal ikhlasmu walaupun perih
    Jangan pernah tergoda hanya oleh bisikan-bisikan, yang mungkin menari diantara mata dan telinga
    Tetaplah yakin pada intuisi, hati dan sanubarimu

    Selasa, 17 Juli 2012

    Gili Lampu

    Gili Lampu adalah nama sebuah destinasi wisata pantai cukup populer yang berada di Sambelia, salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat Indonesia. Berdasarkan susunan katanya Gili Lampu berasal dari kata "Gili" yang berarti Pulau dan "Lampu" yang bisa berarti Penerang. Bisa jadi selama ini banyak orang membayangkan Gili Lampu itu seperti pulau yang dipenuhi dengan lampu-lampu. Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. "Gili Lampu" sebenarnya merupakan pulau kecil dimana terdapat mercusuar tanda penerang atau rambu-rambu lalu lintas laut dan hilir mudik pelayaran di sekitarnya. Menurut keterangan tokoh masyarakat di Sambelia, mercusuar itu sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang, dan kondisinya hingga kini masih berfungsi. Pada malam hari kerlip pijar dari mercusuar tidak hanya terlihat dari sekitar wilayah pesisir, tetapi juga tampak dari Depan Kantor Kecamatan Sambelia (kalau penasaran silahkan dibuktikan langsung). Namun ada hubungan apa antara posisi Kantor Kecamatan dengan mercusuar tersebut, saya tidak bisa menafsirkannya terlalu jauh.

    Posisi dan Perbatasan
    Secara administratif Gili atau Pulau Lampu saat ini termasuk dalam wilayah Desa Labuan Pandan Kecamatan Sambelia Lombok Timur, posisinya sekitar 2 Km di sebelah timur Dusun Transad. Secara komposisi pulau ini lebih tepat disebut sebagai gugusan karang, karena jenis vegetasi yang dominan tumbuh di atasnya juga hanya pohon bakau. Di sebelah timur Pulau Lampu berbatasan dengan Selat Alas, kemudian di utaranya terdapat Gili Petagan yang berukuran sedikit lebih besar, dan di sebelah selatan ada beberapa gugusan pulau kecil yang masyarakat setempat menamainya Gili Lebur. Kuat dugaan sebelumnya pulau-pulau ini merupakan satu kesatuan. Namun akibat arus pasang dan naiknya permukaan air laut, menyebabkan gugusan pulau karang ini seolah terpisah satu sama lainnya.

    Perkembangan Fungsi
    Sekitar tahun 1970-an, Pulau Lampu hanyalah tempat peristirahatan para nelayan yang kebetulan sedang mencari ikan di perairan sekitarnya. Pada waktu itu penggunanya kebanyakan adalah nelayan setempat, yaitu dari Labuan Pandan, sebagian kecil dari Dusun Tibu Borok dan sekitarnya, serta nelayan luar seperti dari Labuan Lombok, Tanjung Teros, Labuan Haji, atau Pulau Sumbawa. Demikian pula dengan pantainya, komunitas nelayan atau warga setempat lebih banyak memanfaatkannya untuk pelabuhan perahu dan sampan atau sekedar untuk mencari nener (bibit bandeng).
    Tetapi memasuki pertengahan tahun 1980-an, pemanfaatan obyek Pulau Lampu mengalami perkembangan proyeksi. Tidak hanya sebatas aktivitas nelayan dan budidaya perikanan, tetapi lebih didorong kearah kepariwisataan. Masyarakat sekitar terutama dari Dusun Transad yang pada dasarnya tidak berlatar belakang nelayan mulai tertarik melakukan pengembangan, antara lain dengan membersihkan dan menata pantai sehingga nyaman untuk rekreasi. Beberapa fasilitas meskipun alakadar (minimalis) mulai disediakan, seperti tempat pedagang makanan dan minuman ringan, membuat sumur pembilasan, tempat ganti pakaian, dan toilet umum.
    Kemudian pada tahun 1990-an, selain menyediakan penginapan seperti bungalow-bungalow, kelompok pengelola setempat yang dimotori Mas Yanto dkk terus melakukan pembenahan, misalnya dengan menyediakan paket penyeberangan ke Gili atau perjalanan antar lokasi wisata pantai di Pulau Lombok. Pada waktu itu kerjasama sudah dilakukan dengan agen tour and travel ternama, seperti "Perama".

    Wisatawan Pengunjung
    Pada awalnya wisatawan yang berkunjung hanya sebatas masyarakat setempat, seperti dari beberapa dusun tetangga se-Desa Sambelia atau dari desa-desa lain se-Kecamatan Sambelia. Inipun hanya diwaktu-waktu tertentu, misalnya piknik saat kenaikan kelas Sekolah Dasar, perayaan Idul Fitri, Idul Adha, atau liburan tahun baru. Tetapi lambat laun, pengunjung dari luar juga mulai berbondong-bondong, seperti dari Kecamatan Pringgabaya, Aikmel, Masbagik, Selong, dll. Bahkan seiring waktu dan gencarnya promosi yang dilakukan tokoh pemuda bersama pemerintah setempat dan swasta, alhasil jumlah kunjungan wisata ke Pulau Lampu meningkat dengan sangat pesat.

    Daya Tarik Kepariwisataan
    Saat ini obyek wisata Pulau Lampu sudah lebih dari cukup terkenal, khususnya sebagai salah satu destinasi wisata pantai yang ada di Pulau Lombok. Dalam promosi paket tour wisata yang disebutkan adalah "Pulau Lampu", tetapi sepertinya yang lebih dominan wisata pantai. Selain bisa mandi dan berenang dengan aman di pantai, ketertarikan wisatawan lokal kebanyakan berkunjung kesana mungkin karena sensasi nama "Pulau Lampu". Sedangkan bagi wisatawan luar atau mancanegara, yang menjadi magnet bukanlah sekedar nama itu, melainkan karena disana mereka bisa menikmati "sunrise". Secara analogi, kalau pariwisata di Bali punya Sanur dan Kuta untuk melihat sunrise dan sunset, maka pariwisata Lombok memiliki Pulau Lampu dan Senggigi untuk menikmati sunrise dan sunset. Kira-kira begitulah ilustrasinya walaupun pada kenyataan kondisi sangat jauh dari kata seimbang, khususnya untuk fasilitas pendukung.
    Tetapi bagaimanapun, inisiatif dan keberhasilan yang dicapai Masyarakat Sambelia terutama para pemuda di Dusun Transad ini patut mendapatkan apresiasi. Sebuah karya anak bangsa, yang sudah sepantasnya para pihak mendukung untuk pengembangan wisata daerah NTB, serta peningkatan manfaat yang seluasnya bagi masyarakat sekitar. Jika ingin lebih sukses, maka masih banyak yang perlu dilakukan bersama, misalnya bagaimana mengemas budaya dan produk lokal yang ada menjadi paket wisata guna meningkatkan pesona dan daya tarik kepariwisataan. Sudah barang tentu, semua itu harus dimulai dari sekarang hingga masa-masa selanjutnya (WG).

    Sambelia, Lombok Timur

    Sambelia adalah sebuah desa yang berada di Bagian Timur Laut Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat Indonesia. Sejak zaman sebelum kemerdekaan desa ini sudah menjadi kampung induk atau perkampungan yang tertua diantara kampung-kampung yang ada di sekitarnya. Barangkali karena latar belakang itu pula, maka kecamatannya pun memakai nama Kecamatan Sambelia.

    Nenek Moyang
    Untuk menemukenali nenek moyang atau siapa penduduk asli Desa Sambelia sepertinya agak sulit. Kalaupun hendak ditelusuri lebih jauh, kemungkinan yang didapat adalah mereka yang juga termasuk pendatang dari wilayah sekitar atau luar daerah. Ambil contoh, warga Dusun Gubuk Daya dan Gubuk Lauk yang berada di pusat desa atau warga Dusun Dasan Bagik, cikal bakal mereka kebanyakan adalah dari Pringgabaya dan Apitaik, dan sebagian kecil berasal dari Mamben, Aikmel, Masbagik dan sekitarnya, termasuk dari Bayan Lombok Utara juga ada. Kemudian warga Dusun Senanggalih, kebanyakan adalah dari wilayah Sakra, dan sebagian kecil dari sekitar Lombok Tengah. Sedangkan warga Dusun Labuan Pandan, selain dihuni pendatang dari wilayah sekitar, juga diketahui ada kelompok masyarakat Bugis Makasar yang tinggal lebih awal, dan kebanyakan berprofesi nelayan.

    Kedatangan Penduduk
    Di era 1960-1970an, komposisi dan jumlah pendatang baru di Sambelia terus bertambah. Diketahui ada komplek Transmigrasi Angkatan Darat (Transad) yang dibangun dekat perbatasan atau pintu masuk wilayah kecamatan di bagian selatan. Kemudian dengan kebijakan pemerintah melalui program pendistribusian tenaga pegawai seperti guru sekolah dasar, polisi, pertanian, kehutanan, perkebunan, perpajakan, dsb. Pada awal tahun 1980-an dengan dibangunnya Sekolah Lanjutan Pertama, rombongan guru-guru SLTP juga mulai berdatangan. Pada umumnya mereka tinggal dan menjadi penduduk tetap di Sambelia. Selain itu, berkembangnya dunia bisnis transportasi dan perdagangan juga turut andil mewarnai pertumbuhan penduduk di desa ini. Perkembangan pasar misalnya, terbukti telah memikat para pendatang seperti dari Apitaik, Masbagik dan sekitarnya untuk berdagang dan mengadu nasib di Sambelia. Pola yang sama juga sebenaranya terjadi di desa-desa sekitar, seperti Obel-Obel dan Belanting yang warganya kebanyakan dari Bayan, Apitaik, Mamben, Pringgasela dan sekitarnya. Relatif mudah untuk mengetahui dari mana warga itu berasal, yaitu dari dialek bahasa yang mereka gunakan sehari-hari (WG).

    Pembentukan Forum Pelajar dan Mahasiswa Sambelia


    Mataram, 18 Juli 2012. 
    Sesungguhnya saya sangat tertarik dengan ide pembentukan "Forum Siswa Pelajar dan Mahasiswa Asal Sambelia". Ini adalah impian lama, namun saya belum mendapat kekuatan yang cukup untuk mewujudkannya. Selama ini saya selalu mengelola dengan beradaptasi dan meyakini bahwa forum itu sebenarnya sudah ada. Hanya mungkin karena sifatnya yang cair, maka secara struktur tidak selalu terlihat oleh setiap tingkatan generasi atau kebanyakan orang. 
    Saya bangga dan mulai terjawab ketika teman-teman ada yang mulai mencetuskan ide/ gagasan ini. Semoga berhasil. Karenanya saya terus berupaya mamantau proses-proses yang dibangun, termasuk mengikuti perkembangan informasinya, meskipun tidak secara langsung. Setidaknya saya punya alasan kuat untuk itu, sekaligus harapan tentunya pada forum, kendati kedua hal tersebut tidak perlu saya utarakan di sini. Dan bagaimanapun kondisi forum saat ini, apakah masih sebatas wacana atau sudah mengkristal, saya tetap mendukung agar dimasa datang yang penuh tantangan apa yang menjadi mimpi bersama itu benar-benar bisa memiliki eksistensi. Sehingga besar harapan pula untuk dapat berkontribusi sesuai kapasitas yang saya miliki.
    Satu hal yang saya pikirkan tentang forum yaitu ketika masih dalam bentuk konsep, angan-angan atau wacana, sejatinya forum itu belum terlahir atau dapat dikatakan tidak ada. Diantara kita mungkin tidak sedikit yang mempunyai impian, harapan atau angan-angan. Tetapi selama belum ada aksi mewujudkannya, maka tidak akan pernah ada hasil yang bisa dicapai. Forum itu dapat dikatakan ada jika mulai terlihat adanya peran dan fungsi yang bisa dimainkan di sana. Forum akan memiliki eksistensi yang efektif apabila mampu menunjukkan akselerasi positif antara dua hal, yaitu; "daya ikat" dan "daya padu". Selanjutnya, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman di organisasi saya ingin mengajak teman-teman yang tergabung dalam forum ini untuk mereview kedua istilah dalam tanda kutip tersebut, sekaligus berharap ulasan disini membantu untuk memahami bagaimana kombinasi yang baik diantara keduanya.
    Sebuah forum akan tumbuh dari pengalaman bersama seluruh anggotanya sebagai entitas kelompok yang saling berinteraksi satu sama lain dalam waktu cukup lama. Untuk mereview keberhasilan sebuah forum dapat dilakukan secara sederhana, karena kecenderungannya bisa dilihat dari 2 aspek, yaitu; sejauh mana "daya ikat" dan "daya padu" yang terjadi di dalamnya.
    Daya ikat; ada 2 kemungkinan dalam hal ini yaitu daya ikat rendah dan daya ikat tinggi. Daya Ikat rendah; artinya setiap anggota kurang/ tidak merasa menjadi bagian forum atau merasa tidak diperlukan dalam forum. Sedangkan daya ikat tinggi; artinya setiap anggota merasa senang menjadi bagian forum dan benar-benar sadar akan hal tersebut.
    Daya Padu; forum adalah wujud penyatuan tujuan pribadi setiap anggotanya yang khas menjadi tujuan forum secara menyeluruh. Daya padu rendah; artinya setiap anggota merasa tidak memiliki ikatan dengan tujuan forum, dan tidak mutlak harus mendukung, atau boleh melakukan hal yang sama sekali tak berhubungan dengan tujuan forum. Daya padu tinggi; artinya setiap anggota merasa terikat dan berkewajiban menunjang keberhasilan pencapaian tujuan forum.
    Ada beberapa kemungkinan kombinasi Daya Ikat dan Daya Padu, sebagai berikut:
    Daya Ikat Rendah + Daya Padu Rendah; ini menggambarkan kondisi anggota forum tidak merasa terikat sebagai satu kesatuan dengan yang lain, disamping tidak memiliki keterikatan mutlak pada tujuan forum. Ini merupakan kondisi yang paling parah dalam suatu forum, sehingga forum tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengerahkan anggota dalam mencapai tujuan. 
    Daya Ikat Rendah + Daya Padu Tinggi; ini menggambarkan kondisi anggota forum tidak merasa perlu bekerja bersama setiap saat, meskipun masing-masing menyadari selama ini pola kerja mereka untuk menunjang pencapaian tujuan dilakukan sendiri-sendiri. Ketika forum tidak memerlukan adanya kesetiakawanan diantara anggota, maka persoalan bisa muncul.
    Daya Ikat Tinggi + Daya Padu Tinggi; meskipun pada kenyataan sulit atau langka terjadi, tetapi ini merupakan kondisi paling ideal bagi suatu forum. Pada tataran ini anggota forum merasa memiliki kebersamaan yang kuat dan sadar bahwa suasana kekompakan itu adalah dalam rangka menunjang keberhasilan pencapaian tujuan.
    Daya Ikat Tinggi + Daya Padu Rendah; menunjukkan tingkat perkembangan yang sudah gawat atau berbahaya bagi forum. Secara organisasi, rasa kebersamaan antara anggota tanpa disertai kesadaran yang cukup terhadap pentingnya pencapaian tujuan, maka itu justru akan berbalik merugikan forum itu sendiri. Menghadapi persoalan seperti ini maka hanya ada 2 pilihan, yaitu ; forum disadarkan kembali atau forum dibubarkan saja. 
    Selanjutnya menurut John C Macwell, ada beberapa prinsip forum yang solid, antara lain:
    ·         Sadar akan misi
    ·         Berkomitmen
    ·         Mampu beradaptasi
    ·         Mampu berkolaborasi
    ·         Mampu berkomunikasi
    ·         Kompeten
    ·         Dapat diandalkan
    ·         Berdisiplin
    ·         Memperbesar
    Apa yang perlu dilakukan forum:
    ·         Menggali kekuatan dan kelemahan forum (internal)
    ·         Menggali peluang dan ancaman forum (ekternal)
    ·         Analisis stake holder
    ·         Analisis strategi, dan
    ·         Merumuskan rencana tindakan 
    ...................................................................................................................................................... (WG).

    Kamis, 12 Juli 2012

    Kekuatan Cinta

    Walau hanya sebentar, kehadiranmu begitu berarti bagiku....
    Ini Tentang :
    Cinta yang mendorong rasa syukur, walau hanya dengan hal-hal kecil...

    Jejak Yang Bergores

    Muncullah, aku pasti akan Memanggilmu...
    Datanglah, aku pasti akan Menemanimu...
    Tenanglah, aku pasti akan Menjagamu...
    Ketahuilah...
    Jejakmu masih ada..., disini..., di dalam Hatiku...
    Hanya aku belum tau..., bagaimana cara menemukanmu..., tuk sekedar berbagi cerita..., dan kalau boleh..., menghapus Luka itu...

    Jejakmu Sirna Tak Berbekas

    Langkahku lunglai. Hati, jiwa dan pikiranku menjadi rapuh. Pada kenyataan kembara yang memberi harapan tak pasti. Hanya sesak dan perih yang menggelora di dada. Bukankah aku pernah berjanji, untuk membuktikan kekuatan itu. Kemana kuharus mencari, karena jejakmu seakan tenggelam dalam kegalauan pencarianku. Hilang tak berbekas, sunyi tak bersuara, dan hampa tak bercerita...

    Kamis, 05 Juli 2012

    Napak Tilas KMPH Sesaot


    Jum'at 5 Juli 2012, bersama 2 rekan kerja saya meluncur ke Kawasan Sesaot Kecamatan Narmada Lombok Barat. Tujuannya untuk mengkoordinasikan rencana kegiatan Lokalatih Penyusunan Perdes Tentang Sumberdaya Alam yang akan diselenggarakan bersama pemerintahan 4 desa (Sedau, Lebah Sempage, Pakuan dan Buwun Sejati). Sebenarnya dibalik tujuan tersebut juga ada dorongan kuat untuk bertemu teman-teman di sana, sekaligus untuk mengetahui perkembangan situasinya. Karena itu bagi saya misi itu ibarat "sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui", jadi asyik sekali bukan…?. 
    Secara administratif ke-4 desa tersebut masih tergolong muda, bahkan dua desa terakhir baru mengalami satu periode kepemimpinan Kepala Desa. Kalau dihitung-hitung kilas balik usia perjalanan “Mitra Samya” pun hampir sama. Hanya memang tidak serta merta mudah menarik benang merah antar keduanya. Apalagi sejak 10 tahun terakhir kami "Pelaksana Mitra Samya" sudah jarang berinteraksi secara program dengan masyarakat maupun kelompok di Kawasan Sesaot, tidak seperti saat menjadi pelaksana program LP3ES NTB (1990-2000).
    Tetapi yang menarik ternyata umumnya bisa mengerti dan memahami kondisi ini sebagai konsekwensi dari pilihan. Tidak ada yang perlu disesali, karena yang terpenting masing-masing sanggup menatap kedepan dengan rencana program yang berkualitas dan kegiatan yang lebih efektif. Setidaknya kebersamaan yang pernah dialami sudah lebih dari cukup untuk memelihara ikatan rasa yang kuat serta kepercayaan mendalam antar satu sama lain.
    Walaupun belum ada kata yang pas untuk membingkai pola hubungan yang terjalin, masing-masing terus menjaga dan saling menghormati. Hanya satu keyakinan bahwa semua ini tidak terjadi begitu saja, melainkan karena adanya kesamaan cara pandang dan respect atas dinamika di tingkat kawasan. Sementara mungkin pola inilah yang terbaik, kendati hanya kami yang bisa memaknai dan menjalaninya dengan sepenuh hati.
    Dalam catatan saya, KMPH telah mewadahi pengembangan masyarakat sekitar hutan di Kawasan Sesaot tidak kurang dari 17 tahun lamanya. Sebagai organisasi masyarakat sipil (OMS) setempat, sejak awal dibentuk KMPH sudah berkomitmen untuk mendukung visi “Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera”. Dalam hal ini konsep yang dikembangkan relatif sederhana, yaitu bagaimana menciptakan harmoni antara pengembangan ekonomi masyarakat dan upaya-upaya pelestarian sumberdaya alam khususnya hutan dan air.
    Nah, napak tilas dari jejak-jejak pengembangan pengelolaan hutan bersama masyarakat yang difasilitasi KMPH Sesaot, serta hubungannya dengan strategi pengembangan wilayah, maka setidaknya terlihat beberapa kondisi yang menunjukkan perkembangan sangat pesat,  diantaranya :
    ·      Pertumbuhan ekonomi masyarakat
    ·      Para Kader menjadi pemimpin desa
    ·      Interaksi harmonis antara masyarakat dan para pemimpin antar desa
    ·      Komitmen dan jaringan para pihak

    Rabu, 04 Juli 2012

    Ketahanan Pangan Vs Program Raskin

    Hasil obrolan dengan teman-teman waktu itu akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sejak zaman dahulu sistem ketahanan pangan di Indonesia itu sudah berlapis-lapis. Seperti di kawasan Indonesia Timur, sehari-hari masyarakatnya selalu makan dengan nasi (beras). Dalam situasi paceklik misalnya ketika persediaan beras habis, mereka makan dengan jagung. Saat persediaan jagung mulai menipis biasanya produksi beras sudah dihasilkan kembali. Dan, kalaupun padi belum dihasilkan kemudian persediaan jagung menipis mereka bisa makan dengan ketela. Sambil bertahan dengan singkong di kebun mereka juga ke hutan mencari bahan pangan seperti gadung, talas, dan umbi-umbian lainnya. Begitu dan seterunya....
    Jadi,  istilah kelaparan itu sebenarnya tidak akan pernah terjadi dalam sejarah negeri ini. Kalaupun ada biasanya kasuistis dan hanya di sekitar perkotaan atau daerah-daerah tertentu yang kondisinya memang sangat kritis, atau bisa jadi akibat bencana alam, dsb. Bahkan terkadang kasusnya menjadi sedemikian bombastis akibat ekspos yang berlebihan oleh karena ada maksud atau tujuan tertentu, wallahualam bissawaf.
    Karena itu, kebijakan program raskin yang kenyataan dalam implementasinya telah menimbulkan berbagai persoalan di masyarakat, sejatinya perlu ditinjau lebih jauh. Jangan sampai program ini hanya akan mematikan jiwa dan semangat ketahanan pangan yang sudah ada sejak turun temurun. Kalaupun program ini masih dianggap penting, maka disarankan proses targetingnya dilakukan dengan lebih selektif. Scalling up secara nasional juga mungkin belum terlalu diperlukan. Karena sesungguhnya masih banyak sektor lain yang membutuhkan penanganan serius, seperti bagaimana meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan, pelatihan dll agar bisa lebih kompetitif, peningkatan produktifitas pertanian menuju swasembada pangan, menambah lapangan kerja, dsb.
    Tetapi bagaimanapun, dibalik peluncuran program Raskin ini menunjukkan adanya niat baik (polical will) dari pemerintah untuk membantu warga yang nasibnya kurang beruntung, agar beban mereka dalam pemenuhan kebutuhan pangan (beras) bisa berkurang. Untuk itu kita perlu menyambut program ini dengan baik, membantu menyibak berbagai persoalan dalam pelaksanaannya, agar tujuan program benar-benar sampai kepada sasaran (WG).

    Minggu, 22 April 2012

    Pendidikan Kurang PD

    Akhir April 2012 ini saya merasa begitu resah, pertama karena pada Mg I Mei putra sulung akan menghadapi ujian nasional (UN), kedua di Mg III Mei dia juga menjelang test masuk sekolah menengah pertama ke salah satu RSBI Kota Mataram. Sementara diantara kedua moment tersebut, saya harus keluar kota demi mengemban tugas. Nuansa menjadi sentimentil, karena bagaimanapun ada perasaan kontradiktif di hati, antara tanggungjawab sebagai orang tua dan amanat pekerjaan.
    Upaya negosiasi kepada pihak terkait pekerjaan sudah coba saya lakukan, namun belum jelas hasilnya. Penyebabnya barangkali argumentasi saya kurang mantap. Masalahnya saya masih menyimpan masalah ini karena menganggap sebagai persoalan pribadi. Daripada menjadi cengeng merengekkan pengunduran jadwal, kemungkinan saya pasrah dalam doa kepadaNYA sembari mengucap Bismillahirrohmanirrohim. Saya yakin Tuhan punya rencana dibalik semua ini, entah pada level yang keberapa, hanya Dialah Yang Maha Mengetahui.
    Nah, bicara tentang pendidikan nasional Vs ujian nasional (UN), mungkin sebaiknya kita flashback ke tujuan pendidikan nasional seperti yang diamanatkan UUD 45 yang konon “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa”. Setelah itu mari kita coba tinjau lebih jauh apa tujuan UN?, apakah semata untuk menyamakan kwalitas pendidikan secara nasional, atau seperti apa?. Menurut hemat saya, yang perlu dikedepankan adalah pendidikan nasionalnya, bukan ujian nasionalnya.
    Sistem pendidikan yang berlaku di negeri ini kenyataannya beda-beda antar daerah. Boleh dikatakan kualitas pendidikan secara nasional belum merata. Kalau standar pendidikan masih mengalami ketimpangan, sepertinya tidak fair untuk menyelenggarakan UN. Jangan sampai yang terjadi misalnya, yang diajarkan cara membuat kue tetapi yang diujikan cara membuat sepatu. Ini tidak nyambung. Jadi jangan salahkan bunda mengandung kalau kemudian UN menjadi momok bagi semua komponen pendidikan.
    Pada dasarnya persoalan pendidikan di tanah air adalah rentetan dari proses sebelumnya. Coba bayangkan, ketika para pendidik adalah produk nyontek, kemudian dilingkungan kerjanya terjebak pada sistem dan mekanisme yang kebanyakan tidak rasional. Apalagi sudah bukan rahasia lagi kalau belakangan ini Diknas pun tak luput dari label departemen koruptor. Nah, dengan kondisi begini apa kira-kira yang akan terjadi?.
    Kecenderungannya mental pendidikan menjadi cemen. Dalam persoalan UN pun tampaknya mirip-mirip, yang kurang PD bukan hanya murid, tetapi juga para guru dan pihak sekolah lainnya. Disatu sisi sebagian sudah terjebak dan tidak memotivasi murid berupaya keras, tetapi justru mengajarkan hal-hal yang tidak rasional seperti menyontek, berburu kunci jawaban, dll.  Disisi lain, ada kekhawatiran secara kinerja dianggap gagal. Dan menjadi semakin kompleks ketika persoalan ini menjadi sebuah kesepakatan kolektif misalnya ditingkat sekolah atau daerah tertentu. Jadi, kalau mental pendidikan kurang PD maka kita pun akan menjadi bangsa yang selalu tidak pernah PD selama-lamanya.
    Saya juga melihat kesalahan persepsi pelaksana pendidikan khususnya pada level mikro. Misalnya terhadap pandangan sekolah yang dianggap gagal ketika tingkat kelulusan UN-nya rendah. Faktanya sekolah tersebut memang gagal, yang bisa jadi disebabkan oleh berbagai kemungkinan, seperti; kurikulum tidak sesuai, kualitas pelaksanaan pendidikan rendah, faktor murid, problem eksternal lain, dsb. Sebenarnya, kalau semua pihak menerima kenyataan dan berupaya mencari solusi terbaik mungkin masalahnya beres. Tetapi kalau masing-masing membela diri, saling menyalahkan, atau justru ada yang memancing di air keruh, maka persoalannya ibarat mengurai benang kusut.
    Jika ditelisik secara mendalam beberapa sinyalemen di atas mungkin saja terjadi di era serba korup seperti sekarang ini. Bisnis sudah menjadi sangat merajalela, demi kepentingan materill pendidikan pun melupakan amanah UUD 45. Sehingga yang terjadi justru mengorbankan masa depan anak bangsa. Dalam contoh kasus tersebut, tujuan mikro mungkin tercapai namun dengan mengorbankan tujuan yang makro. Sekolah disini lebih mencerminkan kepentingan pelaksana “pihak sekolah” pendidikan, tinimbang mengemban mandat pendidikan secara holistik (WG).

    Jumat, 20 April 2012

    Kepemimpinan

    Kepemimpinan berasal dari kata dasar "pemimpin" yang mendapat awalan "ke" dan akhiran "an". Seseorang akan disebut pemimpin jika ia memiliki pengikut atau bawahan. Untuk itu seorang pemimpin minimal harus memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain.
    Kepemimpinan adalah gaya, atau style yang melekat pada diri seseorang yang se dang menjadi pemimpin. Sifat kempimpinan merupakan bawaan seseorang sejak ia dilahirkan, sehingga dalam penerapannya relatif sulit atau bahkan nyaris tidak dapat diubah.
    Ketika pernah mengalami beberapa era kepemimpinan, seseorang mungkin akan terjebak membandingkan kepemimpinan satu dengan lainnya. Sesungguhnya hal ini wajar dan bisa dimengerti. Tetapi proses membandingkan dua kepemimpinan atau lebih, itu sama halnya dengan menyandingkan apel dengan jeruk. Seseorang yang tidak suka jeruk tentu akan mengatakan bahwa apel lebih enak. Demikian pula sebaliknya.
    Sehingga ketika berada di era kepemimpinan yang menurut Anda mungkin kurang atau tidak baik, maka jalani saja sebaik-baiknya. Saran terpenting adalah berupaya menemukan pembelajaran terbaik, meskipun untuk itu mungkin tidak selalu mudah. Bagaimanapun pemimpin yang berkuasa mungkin adalah yang terbaik “untuk saat itu”, karena buktinya pilihan diberikan kepadanya. Karena itu jalankan saja tugas-tugas yang diberikan, minimalisir berbagai kesalahan yang mungkin terjadi. Sebab untuk merubah gaya kepemimpinan seseorang itu nyaris mustahil "sangat sulit", kecuali dengan cara menggantikannya (WG).

    Rabu, 18 April 2012

    Dinamika Raskin

    Hari itu Selasa 3 April 2012, sekitar pukul 08.00 pagi, dengan mengendarai sepeda motor saya meluncur ke Desa Kabul Kecamatan Praya Barat Daya Kabupaten Lombok Tengah. Motor bergerak perlahan namun pasti, melahap setiap km jalanan dan meliuk diantara tikungan yang menghadang. Bias sinar mentari pagi yang menerobos di sela pepohonan pinggir jalan terasa hangat, seolah mulai berorasi menyibak sisa-sisa dinginnya sang malam. Dari rumah pastinya saya mengambil jalur terdekat, mulai Sayang-Sayang, Selagalas, Sweta, Kediri dan tembus di Kuripan. Memasuki jalur by pass motor melaju ke arah BIL, belok lewat Darek dan terus ke selatan, maka beberapa menit akan tiba di perbatasan desa yang ingin saya tuju. Namun di perjalanan, tepatnya setelah Kantor Kecamatan Praya Barat Daya atau sekitar Dam Pengga, HP dalam saku bergetar. Saya memutuskan berhenti sejenak untuk merespon panggilan tersebut. Dan, ternyata telepon Pak Bos, mengenai sesuatu yang cukup penting di kantor. Pagi itu saya memang belum sempat konfirmasi tentang rencana supervisi ke lapangan.
    Setelah semua urusan dengan Bos beres dan menyepakati beberapa solusi, pembicaraan kami sudahi. Hp saya masukkan kembali ke dalam saku. Dan, tanpa sengaja mata saya menyapu hamparan sawah luas dengan latar belakang Pegunungan Mareje di sebelah barat yang tampak tenang dan berwibawa. Di kejauhan terlihat beberapa kelompok petani baru mulai bekerja, diantara mereka tampak ada yang memperbaiki pematang, dan sebagian seperti sedang menanam padi. Setengah melamun saya berkata dalam hati, mungkin semua itu perlambang janji akan kedamaian dan kemakmuran masyarakat di sekitarnya.
    Tidak jauh dari tempat itu, di aula balai desa yang sederhana, sudah terbayang sebuah proses partisipatif bersama warga. Dengan difasilitasi oleh Faslap dari Konsorsium bersama Fasdes setepat, mestinya mereka sedang fokus membahas program-program penanggulangan kemiskinan yang ada. Ingin sekali segera sampai di sana, rasanya sudah tidak sabar untuk menyaksikan proses dan mendengarkan respon serta tanggapan dari masyarakat. Karena itu saya tidak mau buang waktu, dan langsung tancap gas menuju Desa Kabul.
    Setelah sampai ternyata suasana di balai desa biasa saja, bahkan cenderung sepi karena tidak ada indikasi pertemuan warga. Hanya sebuah mobil jenis Avanza yang entah kenapa diparkir tepat di depan pintu gerbang. Tidak lama berselang Pak Sekdesnya tampak keluar. Dan ketika saya hampiri sembari menanyakan agenda Konsorsium, beliau mengatakan; “agenda itu disepakati hari Jum’at depan. Mungkin sekarang teman-teman sedang berproses di Pandan Indah (desa sebelah), tidak jauh hanya sekitar 3 Km dari sini”, demikian terang Pak Sekdes.
    Melihat Pak Sekdes yang tampak buru-buru karena katanya hendak ke Kantor Camat, saya pun mohon diri. Sepeda motor kembali meluncur ke Pandan Indah, sebuah desa yang pada 2004 lalu mekar dari desa yang baru saja Pak Sekdesnya berbincang dengan saya. Tidak sampai 25 menit akhirnya saya tiba di Balai Desa. Disini pun saya hanya menjumpai beberapa orang staf desa termasuk dengan Pak Sekdes. Menurut keterangan Pak Sekdes, Faslap dari Konsorsium kemarin sudah datang dan berdiskusi cukup panjang sampai menyepakati jadwal bertemu warga selama 2 hari mulai besok.
    Akhirnya daripada langsung kembali, saya memutuskan berbincang dengan Pak Sekdes Pandan Indah sembari melepas lelah sejenak. Saya mulai dengan menanyakan tentang program-program penanggulangan kemiskinan (PK) yang ada. Beliau lalu menyebutkan beberapa program yang cukup berpengaruh di masyarakat, seperti; Program Unggulan Kabupaten (Prukab), Program Bedah Desa (Bedes), dan PNPM. Disamping itu, Program Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin) juga masih berjalan. Bahkan menurut Pak Sekdes, selama ini pelaksanaan Program Raskin telah menyita waktu, tenaga dan pikiran aparat desa dan para tokoh.
    Tanpa sadar kami sudah membicarakan panjang lebar tentang beberapa jenis program PK yang ada. Akan tetapi kesan paling mendalam yang saya rasakan ketika beliau menceritakan masalah Raskin, yang ternyata dilaksanakan dengan sistem bagi rata juga. “Bagi kami tantangan Raskin ini sangat berat. Mau tidak dibagi rata, kenyataan rata-rata kondisi ekonomi masyarakat hampir sama. Kalau hanya diberikan kepada beberapa rumah tangga saja, kemungkinan masyarakat akan pecah. Sebaliknya dibagi rata pun tetap menjadi beban, karena program ini sebenarnya hanya untuk warga miskin, dan jumlah RTS yang terdaftar tidak banyak. Dengan sistem bagi rata artinya sebagian hak orang miskin dari subsidi lewat Raskin ini dirampas dan dibagikan kepada mereka yang mungkin tidak terlalu miskin atau tidak miskin”, ungkap Pak Sekdes.
    Sekembali dari desa, pikiran saya terus berkecamuk di sepanjang perjalanan. Cakrawala saya menerawang, menghubungkan antar satu variabel dengan lainnya, mencoba menemukan alasan yang kemungkinan connect dengan masalah yang kami bahas di balai desa tadi. Salah satunya saya tidak habis pikir, mengapa di tengah masyarakat yang sedemikian religius dan sebagian juga intelek, berlangsung pembiaran terhadap praktik-praktik penyimpangan seperti yang terjadi dalam distribusi program Raskin?. Apakah di era ini terlalu sulit untuk berlaku adil, menegakkan yang benar, dan memastikan antara yang hak dan yang batil?.
    Memang tidak bisa dipungkiri, merebaknya kasus anarkis belakangan telah menjadi bagian carut marutnya program-program kemiskinan, tak terkecuali dalam pelaksanaan program Raskin. Seorang aparat desa pernah mengatakan, “jika kami memaksa untuk melaksanakan ketentuan, kemudian mendapatkan musibah dari tindakan anarkis warga, siapa yang menanggung penderitaan kami?”. Pertanyaan tersebut logis dan mudah difahami, sehingga ketika dihadapkan pada pilihan dimana tidak ada mekanisme yang menjamin, siapapun tentu cenderung mengambil alternatif aman.
    Tetapi sangat naif ketika sesuatu yang masih kasuistis digeneralisir, kemudian dilegitimasi demi kepentingan yang terselubung. Di era yang hiruk pikuk dengan kasus korupsi ini, wajar jika masyarakat banyak mempertanyakan; benarkah tidak ada udang dibalik semua alasan kolektif itu?. Sudah sedemikian pengecutkah jiwa para pemimpin dan tokoh kita untuk menegakkan yang hak dan yang batil? Dimana hati nuraninya ketika dengan dingin menyabotase hak-hak orang miskin?, dsb.
    Dari tinjauan dokumen dan hasil pengamatan berbagai pihak di lapangan juga diketahui bahwa selama hampir 14 tahun pelaksanaan program Raskin, banyak praktik-praktik penyimpangan yang dilakukan. Mulai dari penyelewengan diam-diam seperti pencurian beras dalam perjalanan menuju titik distribusi, hingga secara terang-terangan seperti keputusan menaikkan nilai tebusan, penurunan quota jauh dibawah standar normatif, dsb. Dengan beragam modus penyimpangan dalam implementasi Raskin, pertanyaannya apakah sudah tidak ada lagi yang peduli terhadap nasib masyarakat miskin?. Dimana posisi negara sebagaimana diamanatkan UUD 45 Pasal 34 Ayat (1)?.
    Dibalik semua fakta yang sepihak telah merubah sifat eksklusif Raskin menjadi inklusif, saya jadi penasaran untuk membuktikan; Benarkan masyarakat kita yang adiluhung ini sudah tidak memiliki empati pada kelompok miskin?; Benarkah masyarakat kita yang berbudaya luhur ini sudah menjadi sedemikian egois, hingga menuntut bagian dari hak orang miskin?; Benarkan otoritas desa dan para tokoh kita sudah menjadi pengecut dan tidak berani menegakkan kebenaran serta justru mendukung yang salah?. Bagaimanapun, nurani saya masih sangsi, rasanya itu semua tidak mungkin di tengah masyarakat yang religius, berpancasila dan berdasarkan UUD-45. Tetapi kalau memang demikian, apa kira-kira makna dibalik peristiwa beberapa dekade terakhir? Apakah ada kaitannya dengan beragam musibah dan bencana yang melanda hampir seluruh negeri? Wallahualam . . . 
    Sebagai salah satu alternatif penanggulangan kemiskinan, program Raskin memang masih  dibutuhkan. Khusus di Pulau Lombok, kami pernah berfikir bagaimana kalau distribusinya melalui Masjid atau sarana ibadah lain yang ada? Tetapi kalau implementasi program ini cenderung menimbulkan berbagai permasalahan sosial dan konflik di masyarakat, mungkin sebaiknya dihentikan saja. Namun sekiranya hal ini bisa dilakukan setelah kesejahteraan masyarakat terwujud dengan merata, tentu jauh lebih baik. Dalam arti, angka kemiskinan sudah mencapai nol dan semua warga dapat memenuhi kebutuhan hidup minimumnya secara layak (WG).