Hasil obrolan dengan
teman-teman waktu itu akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sejak zaman dahulu
sistem ketahanan pangan di Indonesia itu sudah berlapis-lapis. Seperti di
kawasan Indonesia Timur, sehari-hari masyarakatnya selalu makan dengan nasi
(beras). Dalam situasi paceklik misalnya ketika persediaan beras habis, mereka
makan dengan jagung. Saat persediaan jagung mulai menipis biasanya produksi
beras sudah dihasilkan kembali. Dan, kalaupun padi belum dihasilkan kemudian
persediaan jagung menipis mereka bisa makan dengan ketela. Sambil bertahan
dengan singkong di kebun mereka juga ke hutan mencari bahan pangan seperti
gadung, talas, dan umbi-umbian lainnya. Begitu dan seterunya....
Jadi,
istilah kelaparan itu sebenarnya tidak akan pernah terjadi dalam sejarah negeri ini. Kalaupun ada biasanya kasuistis dan hanya di sekitar perkotaan atau daerah-daerah tertentu
yang kondisinya memang sangat kritis, atau bisa jadi akibat bencana alam, dsb.
Bahkan terkadang kasusnya menjadi sedemikian bombastis akibat ekspos yang berlebihan oleh karena ada maksud atau tujuan tertentu, wallahualam
bissawaf.
Karena itu, kebijakan
program raskin yang kenyataan dalam implementasinya telah menimbulkan berbagai
persoalan di masyarakat, sejatinya perlu ditinjau lebih jauh. Jangan sampai
program ini hanya akan mematikan jiwa dan semangat ketahanan pangan yang sudah
ada sejak turun temurun. Kalaupun program ini masih dianggap penting, maka
disarankan proses targetingnya dilakukan dengan lebih selektif. Scalling up
secara nasional juga mungkin belum terlalu diperlukan. Karena sesungguhnya
masih banyak sektor lain yang membutuhkan penanganan serius, seperti bagaimana
meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan, pelatihan dll agar bisa lebih
kompetitif, peningkatan produktifitas pertanian menuju swasembada pangan,
menambah lapangan kerja, dsb.
Tetapi bagaimanapun,
dibalik peluncuran program Raskin ini menunjukkan adanya niat baik (polical
will) dari pemerintah untuk membantu warga yang nasibnya kurang beruntung,
agar beban mereka dalam pemenuhan kebutuhan pangan (beras) bisa berkurang.
Untuk itu kita perlu menyambut program ini dengan baik, membantu menyibak
berbagai persoalan dalam pelaksanaannya, agar tujuan program benar-benar sampai
kepada sasaran (WG).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar