Rabu, 04 Juli 2012

Ketahanan Pangan Vs Program Raskin

Hasil obrolan dengan teman-teman waktu itu akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sejak zaman dahulu sistem ketahanan pangan di Indonesia itu sudah berlapis-lapis. Seperti di kawasan Indonesia Timur, sehari-hari masyarakatnya selalu makan dengan nasi (beras). Dalam situasi paceklik misalnya ketika persediaan beras habis, mereka makan dengan jagung. Saat persediaan jagung mulai menipis biasanya produksi beras sudah dihasilkan kembali. Dan, kalaupun padi belum dihasilkan kemudian persediaan jagung menipis mereka bisa makan dengan ketela. Sambil bertahan dengan singkong di kebun mereka juga ke hutan mencari bahan pangan seperti gadung, talas, dan umbi-umbian lainnya. Begitu dan seterunya....
Jadi,  istilah kelaparan itu sebenarnya tidak akan pernah terjadi dalam sejarah negeri ini. Kalaupun ada biasanya kasuistis dan hanya di sekitar perkotaan atau daerah-daerah tertentu yang kondisinya memang sangat kritis, atau bisa jadi akibat bencana alam, dsb. Bahkan terkadang kasusnya menjadi sedemikian bombastis akibat ekspos yang berlebihan oleh karena ada maksud atau tujuan tertentu, wallahualam bissawaf.
Karena itu, kebijakan program raskin yang kenyataan dalam implementasinya telah menimbulkan berbagai persoalan di masyarakat, sejatinya perlu ditinjau lebih jauh. Jangan sampai program ini hanya akan mematikan jiwa dan semangat ketahanan pangan yang sudah ada sejak turun temurun. Kalaupun program ini masih dianggap penting, maka disarankan proses targetingnya dilakukan dengan lebih selektif. Scalling up secara nasional juga mungkin belum terlalu diperlukan. Karena sesungguhnya masih banyak sektor lain yang membutuhkan penanganan serius, seperti bagaimana meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan, pelatihan dll agar bisa lebih kompetitif, peningkatan produktifitas pertanian menuju swasembada pangan, menambah lapangan kerja, dsb.
Tetapi bagaimanapun, dibalik peluncuran program Raskin ini menunjukkan adanya niat baik (polical will) dari pemerintah untuk membantu warga yang nasibnya kurang beruntung, agar beban mereka dalam pemenuhan kebutuhan pangan (beras) bisa berkurang. Untuk itu kita perlu menyambut program ini dengan baik, membantu menyibak berbagai persoalan dalam pelaksanaannya, agar tujuan program benar-benar sampai kepada sasaran (WG).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar