Senin, 13 Agustus 2012

Wajah LSM di NTB

Di awal dekade 2000-an, saya pernah membaca sebuah "tulisan misterius" yang beredar di internet, dan menjadi perbincangan hangat di kalangan teman seperjuangan. Judul tulisan itu kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Saya menyebutnya misterius karena, pertama; substansi tulisan itu bernada reaksi terhadap program yang pada waktu itu cukup populer di wilayah ini, dan kedua; sang penulis tidak meninggalkan jejak "identitas" sedikitpun pada karya tulisnya itu.

Ungkapan yang disampaikan dengan cara sembunyi-sembunyi tentu menimbulkan berbagai macam praduga. Terutama sekali menyangkut siapa dia dan apa sejatinya yang diinginkan oleh tuan tokoh sang penggugat? Pertanyaan stereotifnya, mungkinkah respon tersebut buah dari ketidaksempatan mengakses apa yang diinginkan? dsb...? Menimbang beberapa analisis dan menyimak dari gaya tulisannya, memang terlintas beberapa nama yang diduga kuat sebagai aktor utama. Hanya saja, tidak akan pernah ada bukti yang kuat untuk menunjuk hidung sang penggugat misterius tersebut.

Kali ini, saya mencoba menulis dengan judul yang serupa. Tetapi tentu bukan counter attack terhadap tulisan itu, melainkan lebih dihajatkan untuk mendokumentasikan kondisi saat ini. Sebagai refleksi dan pembelajaran bersama boleh jadi hal ini memberi warna penting. Karena dari pengamatan sejak satu dekade terakhir, saya mencatat beberapa penampakan LSM di NTB, antara lain: ada yang ber-LSM sebagai tempat menempa diri dan mencari pengalaman, ada yang ber-LSM sebagai batu loncatan, ada yang ber-LSM sebagai sampingan, ada yang ber-LSM sebagai tumpuan, ada yang ber-LSM sekedar tempat bermain, ada yang ber-LSM dengan strategi bersolo karier, ada yang sangat idealis dan menjadi pertapa di lembaganya, ada yang hidup segan pingsan juga nggak jelas, ada yang pergi karena sudah naik pangkat, dll...

Dinamika yang menjadi latar belakangnya pun sangat beragam. Dan kita sering mendapatkan jawaban bahwa semua itu atas nama perubahan dan kenyataan yang menstandarkan segala seuatu secara realistis.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar