Selasa, 24 September 2013

Pencarian

Menurutku, seperti halnya aku, maka pencarianmu sudah mencapai titik temu. Semua dalam kondisi yang sangat baik. Jangan pernah merasa bersalah, karena aku yakin itu semua kamu lakukan dengan niat baik. Sesungguhnya kebaikan senantiasa menebarkan kedamaian hati. Jadi... jangan pernah merasa bersalah dengan kenyataan diantara kita . . . with love 

Dengan Hati

Menurutku apa yang kamu lakukan itu tidak salah, bahkan apa yang kamu pikirkan itu juga sudah benar. Apalagi kamu telah melandasinya dengan hati dan pemikiran yang baik. Maka percayalah, niat baikmu itu akan menjaga setiap langkah dan keputusan yang kamu ambil . . .  

Kamis, 12 September 2013

Seiring Rasa Yang Bergelayut


Sedari dulu dinda memang telah bertabur cinta. Banyak yang singgah dalam kehidupanmu, dan aku hanyalah seorang yang beruntung pernah mendapat tempat - meskipun entah seberapa di relung hati dinda. Beberapa kali aku pun melihat dinda berjalan dengan yang lain, tapi selalu aku menekan ego - hanya tuk menerima kenyataan. Perjalanan memang telah mengikis asa, dan itu berpuncak pada kenyataan yang hampir menenggelamkan semua mimpi, menghancurkan perasaan yang selalu kupupuk semenjak mengenal rasa itu tuk pertama kali denganmu. Terasa pahit dan sembilu, namun aku tegar diantara hati yang tak pernah sanggup berbohong. Bahwa cinta memang selalu mudah untuk memaafkan, apapun yang terjadi. Aku hanya merasa belum saatnya, dan belum mendapatkan moment yang terbaik. Dorongan itu begitu kuat, semangat tuk menerangkan dengan sejelas-jelasnya.... tentang apa yang sesungguhnya. Seiring rasa yang bergelayut...  

Jumat, 23 Agustus 2013

Mencintaimu Adalah Surga Bagiku

Cinta memang aneh, dia bisa membuat seseorang berada di posisi saling bertolak belakang. Cinta membuat seseorang sedih atau menangis, tetapi juga bisa membuat seseorang tersenyum dan tertawa bahagia. Cinta membuat seseorang lemah dan putus asa, tetapi di juga bisa menjadikan kuat dan penuh harapan.

Rabu, 14 Agustus 2013

Cinta

Hanya butuh 3 detik untuk mengatakan "aku cinta padamu"
Butuh 3 jam untuk menjelaskan itu . . .
Tapi butuh 30 tahun untuk membuktikannya . . . 

Saat ini, 
Hatiku menari di ujung gelisah
Ketakutanku membuncah
Dan, aku seperti terjebak 
Kembali pada kutub keindahan . . .

Seperti yang pernah kukatakan,
Aku hanya punya satu hati, itu hanya untukmu 
Aku hanya punya satu cinta, dan itu hanya untukmu 
Aku hanya punya satu kehidupan, dan itupun hanya untukmu
Walau waktu terus berputar, namun itu tak kan mampu menghapusnya
Hingga takdir sekalipun, tidak akan bisa merubahnya 
Karena setiap harapan yang kurasa, telah kuukir di atas langit dan kutanam ke dalam bumi
Agar kau tau, bahwa cinta ini abadi selamanya . . .


Bahkan saat kita tak lagi bersatu
Kau masih menjelma dalam setiap malamku
Menghias mimpi dengan pesona bintangmu
Menghangatkan rindu dengan senyum manismu 
Membawa rinai dalam tatapan matamu
Tanpa suara, dan hanya memandang, lalu menghilang . . .

 

Minggu, 30 Juni 2013

Samin



Pernahkan anda mendengar istilah Samin? Mungkin sepintas yang terbayang adalah orang dengan tipikal bandel, tidak mau diatur, dan suka-suka sendiri dalam menjalankan kehidupannya. Tapi eit jangan salah, dibalik berbagai stigma negatif tentang mereka juga memiliki prinsip-prinsip mendasar yang patut ditiru. Misalnya soal idealisme dan kedisiplinan, wah dalam hal ini mereka tidak perlu diragukan. Contoh, ketika mereka membuat janji seperti besok akan bertemu seseorang di suatu tempat. Maka komitmennya harus jelas besok itu tepatnya jam berapa dan dimana. Dan pada waktu yang dijanjikan sudah dapat dipastikan bahwa si Samin pasti akan datang, dengan cara apapun. Sebaliknya kalau pada waktu yang dijanjikan seseorang itu tidak datang, maka si Samin pasti akan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Sabtu, 15 Juni 2013

Demokrasi Di Bumi Pertiwi



Sebagai Sistem Pemerintahan Terbaik?
Banyak kalangan berpendapat bahwa demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang terbaik untuk saat ini? Haaa.... pernyataan ini justru membuat bn anyak orang mempertanyakan. Mengapa, karena dibalik janji-janji keadilan dan kesejahteraan yang akan diwujudkan ternyata kebanyakan hanya OMDO alias tong kosong nyaring bunyinya. 
Ada Apa?
Ada yang terputus dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Secara teori, demokrasi menjamin kedaulatan benar-benar di tangan rakyat. Kekuasaan ditentukan oleh rakyat, melalui proses pemilihan baik secara musyawarah maupun suara terbanyak. Tetapi apa yang telah terjadi?. Rakyat hanya menjadi batu loncatan, dan ketika sudah bertengger di sana mereka jadi lupa. Alih-alih memikirkan rakyat, yang ada di kepala mereka hanyalah money dan money, entah dari kolusi, korupsi dan nepotisme. Paling mereka akan kembali mengingat rakyat ketika menjelang pemilihan kembali. Masalah SDM pemilih ternyata mayoritas perwakilan tidak amanah. Alhasil, sistem demokrasi kita baru bisa mewujudkan perubahan pada level elit politik saja. Sementara sebagian rakyat masih terbelenggu dalam kemiskinan dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.
Perlu Berapa Lama?
Kalau kondisinya tetap seperti ini tentunya Indonesia membutuhkan proses panjang. Perlu merangkak membangun SDM-nya dulu, baru berharap sistem demokrasi berjalan dengan baik. Atau apakah sebenarnya persoalan demokrasi merupakan problem mendasar bangsa yang tidak akan pernah tuntas sampai akhir zaman?” Saya rasa tidak, apalagi kalau meyakini salah satu fitrah manusia adalah kewajiban untuk belajar. Kita semua wajib belajar - tanpa batasanka  waktu. Terlebih di zaman modern seperti ini, suka atau tidak sepasang kakek nenek pun mesti mengupgrade kamampuannya seperti untuk ber-gadget ria. Mengapa? ya karena itu kebutuhan sebagai pengobat rindu pada anak cucu di rantau. Nah, kapan demokrasi benar-benar menjadi kebutuhan bumi pertiwi?
Apa Yang Perlu Dipelajari?
Jawabnya sederhana, pertama; rakyat harus belajar memilih perwakilannya dengan cerdas dan rasional, bukan secara emosional belaka. Kedua; para pemimpin harus belajar menjalankan amanah, menggunakan kecerdasannya untuk membangun bangsa, mensejahterakan rakyat sebagai “Tangan Tuhan” yang telah memilih mereka menjadi pemimpin, dan bukan mengejar kepuasan pribadi dengan menghambur2kan uang negara.
Rakyat juga harus pandai menentukan pilihan. Misalnya terdapat 3 kriteria calon pemimpin, dan jika kesepakatan prioritasnya (A). Pinter, (B). Amanah, dan (C). Tampan, maka setidaknya ada 4 kombinasi dan 3 alternatif urutan prioritas yang perlu dipertimbangkan :
Kombinasi (A+B+C) = Pintar, Amanah, Tampan (Prioritas 1)
Kombinasi (A+B) = Pintar, Amanah, Tidak Tampan (Prioritas 2)
Kombinasi (A+C) = Pintar, Tidak Amanah, Tampan (Prioritas 3)
Kombinasi (B+C) = Tidak Pintar, Amanah, Tampan (Prioritas 4)
Alternatif (A) = Pintar, Tidak Amanah, Tidak Tampan (Prioritas 5)
Alternatif (B) = Tidak Pintar, Amanah, Tidak Tampan (Prioritas 6)
Alternatif (C) = Tidak Pinter, Tidak Amanah, Tampan (Prioritas 7)
Alternatif (D) = ..... Tidak Usah Saja ???  

Senin, 15 April 2013

Arti Sebuah Nama

Nama merupakan identitas terpenting bagi setiap insan manusia di planet bumi ini. Secara fungsinya adalah paling vital jika dibandingkan dengan identitas lain yang melekat pada diri seseorang. Selain untuk sapaan atau panggilan sehari-hari, nama sekaligus menjadi simbol/ identitas dalam kehidupan sosial masyarakat. Dapat dikatakan semua orang pasti memiliki nama, bahkan orang gila sekali pun tentu punya nama pemberian kedua orang tuanya.

Begitu pula ketika dihadapkan pada moment untuk memberikan nama bagi kedua buah hati. Sudah barang tentu saya tidak boleh sembarangan dalam menentukan pilihan. Nama ideal yang saya harapkan bukanlah sekedar perlambang atau panggilan, melainkan nama yang mempunyai makna baik dan akan memberikan energi positif dalam kehidupan mereka kelak.

Si sulung yang hari-harinya dipanggil Tommy, dia saya berikan nama "Eilham Hutomo Santoso". Artinya adalah "ilham yang pertama" bagi saya. Nama tersebut sekaligus saya munajatkan sebagai ungkapan syukur yang tiada terhenti kepada TYME. Saya juga berharap dia kelak menjadi inspirator munculnya ilham-ilham berikutnya.

Kemudian si ragil yang panggilan kesayangannya adalah "Ayeng", saya melekatkan nama padanya "Farell Kurniawan Santoso". Nama ini saya dapatkan dari istilah/kata yang diyakini oleh masyarakat Irlandia sebagai "pejuang yang tangguh". Harapan saya, kelak si jagoan ini memiliki sifat kejuangan yang kuat, pantang menyerah, namun tetap baik hati.

Happy next time . . . . . 

Jumat, 19 Oktober 2012

Senandung Do'a

Ya Allah, Tuhan Sekalian Alam, . . .  
Ampunilah dosa kami, dan dosa ibu bapak kami
Kasihilah keduanya, sebagaimana mereka telah mengasihi kami semenjak kecil

Ya Allah, Tuhan Sekalian Alam, . . .  
Lapangkanlah jalan hidup kami dunia dan akherat
Bukalah pintu rizki kami, dekatkan jika masih jauh, turunkanlah jika di langit, keluarkan jika masih dalam perut bumi, dan mudahkanlah jika sulit.

Ya Allah, Tuhan Sekalian Alam, . . .  

Tunjukkanlah bagi kami yang benar itu benar dan yang salah itu salah
Kemudian tetapkanlah hati kami untuk menegakkannya

Ya Allah, Tuhan Sekalian Alam, . . .  
Tuntunlah putra putri kami di jalanMu, dan jalan bagi orang-orang yang Engkau ridhoi Terangi kehidupannya kelak dan jadikanlah mereka anak-anak yang berguna

Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Segala2nya
Amin3x Ya Rabbal Alamin

Sabtu, 13 Oktober 2012

Bidadari Kecil

Sejak kecil saya memang suka main bola, tepatnya hobby banget. Waktu itu, hampir tiada hari yang terlewatkan tanpa bermain bola. Mungkin faktor genetik juga ya, karena setahu saya bokap juga dulu suka maen bola.
Meskipun tidak hebat-hebat amat, tapi sejak SD saya sering ikut dalam kompetisi. Agustusan merupakan event yang paling seru, karena  kami selalu bertanding disitu.  Banyak kemenangan sudah kami dapatkan, namun semua lenyap tak berbekas. Hanya satu yang cukup hangat dalam ingatan, waktu itu sering terlihat "bidadari kecil" yang menyemangatiku. Terus bersorak, bahkan terkadang melompat dan berlari . . .
Terasa begitu indah semua itu . . .
I miss u honey . . . 

Rabu, 10 Oktober 2012

Special Women in My Life

Waktu itu dia memang sangat dekat
Bahkan kata teman-temanku, "terlalu dekat untuk disebut sahabat"
Tapi aku rasa semua telah terjaga dengan sempurna
Karena sesungguhnya dia tipe perempuan terhormat
Sehingga tak terbersit sedikitpun, apalagi keberanian walau sekedar tuk menciumnya . . .
Thanks Good

Rabu, 22 Agustus 2012

Bertani Padi




Land
Land Agriculture
Semoga berhasil....

Dream



Oriza Sativa
Aku menggantungkan kebahagiaan mereka padamu ya Robbi . . .

Senin, 20 Agustus 2012

The Way of My Live

Free
Tommy Garden
Aku menanam semua ini untukmu...
dan aku bagikan sebagian dari yang diberikan untuk kita... juga untukmu... 

Perjalanan ini sudah cukup panjang, entah sudah berapa kali aku terjatuh dan terbangun. Tapi aku merasa belum maksimal meraih impian. Selalu merefleksi, bahwa semua itu tak mungkin hanya dengan bim-salabim, melainkan harus bertahap... dengan proses.
Yang terpenting proses itu benar menuju impian.
Mungkin juga akan banyak kendala hambatan yang merintang, terutama godaan yang justru seringkali kuasa membelokkan arah. Sehingga harus lebih fokus dalam melangkah kedepan.

Hidup laksana game atau permainan, jika tidak terkendali dengan cerdas maka akan berujung pada kekalahan yang menimbulkan sesal dan menyakitkan. Tapi harus diingat juga bahwa hidup bukanlah sesuatu yang boleh dipermainkan sembarangan. Dalam hidup juga terkandung jutaan aura dan rasa, yang menyatu dan melibatkan mata, hati, dan pikiran lainnya. Karena itu dengan memaksimalkan sebagai pemberi manfaat dan bukan sekedar penerima, mungkin akan jauh lebih baik . . .

Senin, 13 Agustus 2012

Wajah LSM di NTB

Di awal dekade 2000-an, saya pernah membaca sebuah "tulisan misterius" yang beredar di internet, dan menjadi perbincangan hangat di kalangan teman seperjuangan. Judul tulisan itu kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Saya menyebutnya misterius karena, pertama; substansi tulisan itu bernada reaksi terhadap program yang pada waktu itu cukup populer di wilayah ini, dan kedua; sang penulis tidak meninggalkan jejak "identitas" sedikitpun pada karya tulisnya itu.

Ungkapan yang disampaikan dengan cara sembunyi-sembunyi tentu menimbulkan berbagai macam praduga. Terutama sekali menyangkut siapa dia dan apa sejatinya yang diinginkan oleh tuan tokoh sang penggugat? Pertanyaan stereotifnya, mungkinkah respon tersebut buah dari ketidaksempatan mengakses apa yang diinginkan? dsb...? Menimbang beberapa analisis dan menyimak dari gaya tulisannya, memang terlintas beberapa nama yang diduga kuat sebagai aktor utama. Hanya saja, tidak akan pernah ada bukti yang kuat untuk menunjuk hidung sang penggugat misterius tersebut.

Kali ini, saya mencoba menulis dengan judul yang serupa. Tetapi tentu bukan counter attack terhadap tulisan itu, melainkan lebih dihajatkan untuk mendokumentasikan kondisi saat ini. Sebagai refleksi dan pembelajaran bersama boleh jadi hal ini memberi warna penting. Karena dari pengamatan sejak satu dekade terakhir, saya mencatat beberapa penampakan LSM di NTB, antara lain: ada yang ber-LSM sebagai tempat menempa diri dan mencari pengalaman, ada yang ber-LSM sebagai batu loncatan, ada yang ber-LSM sebagai sampingan, ada yang ber-LSM sebagai tumpuan, ada yang ber-LSM sekedar tempat bermain, ada yang ber-LSM dengan strategi bersolo karier, ada yang sangat idealis dan menjadi pertapa di lembaganya, ada yang hidup segan pingsan juga nggak jelas, ada yang pergi karena sudah naik pangkat, dll...

Dinamika yang menjadi latar belakangnya pun sangat beragam. Dan kita sering mendapatkan jawaban bahwa semua itu atas nama perubahan dan kenyataan yang menstandarkan segala seuatu secara realistis.

    Minggu, 05 Agustus 2012

    Pusaka Yang Hilang

    Satu persatu pusaka itu pergi
    Terselip pelajaran yang tiada terkira
    Sebatas do'a yang kupersembahkan
    Mengiringi langkahmu...
    Kiranya TYME, memberi jalan yang terang...
    Menegarkan langkah arungi bahtera
    Menjunjung tinggi amanat yang kau titipkan
    Pada kami...
    Selamat Jalan Wahai Kanda...
    Kami pasti merindukan semuanya

    Senin, 30 Juli 2012

    Munajat Pagi

    Bercengkrama diantara kombinasi D, G & A
    Teralun varian nada yang indah
    Tak kalah syahdu dari orchestra sang kampiun 
    Singgah di beberapa titik imajiner "tanpa harus lari terlalu jauh"
    Semakin bersensasi walau tak bersyair 
    Irama itu laksana hati yang tercurah 
    Mengalir bebas dan merdeka 
    Mengiringi angan yang menerawang
    Diantara ketakjuban pada riangnya maha pagi
    Ada apa di sana...??? sebuah tanya yang termunajatkan padaNYA
    Yang terjawab... walau dengan isyarat yang membisu

    Jumat, 27 Juli 2012

    Pada Waktu Yang Tak Bersahabat

    Sebaiknya kau simpan perhiasan itu, karena mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menggunakannya
    Biarlah waktu yang menjawab, diantara doa-doa yang termunajatkan kepadaNYA 
    Tepislah kerinduan yang membayangi itu, terima sebagai pondasi yang mempertebal ikhlasmu walaupun perih
    Jangan pernah tergoda hanya oleh bisikan-bisikan, yang mungkin menari diantara mata dan telinga
    Tetaplah yakin pada intuisi, hati dan sanubarimu

    Selasa, 17 Juli 2012

    Gili Lampu

    Gili Lampu adalah nama sebuah destinasi wisata pantai cukup populer yang berada di Sambelia, salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat Indonesia. Berdasarkan susunan katanya Gili Lampu berasal dari kata "Gili" yang berarti Pulau dan "Lampu" yang bisa berarti Penerang. Bisa jadi selama ini banyak orang membayangkan Gili Lampu itu seperti pulau yang dipenuhi dengan lampu-lampu. Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. "Gili Lampu" sebenarnya merupakan pulau kecil dimana terdapat mercusuar tanda penerang atau rambu-rambu lalu lintas laut dan hilir mudik pelayaran di sekitarnya. Menurut keterangan tokoh masyarakat di Sambelia, mercusuar itu sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang, dan kondisinya hingga kini masih berfungsi. Pada malam hari kerlip pijar dari mercusuar tidak hanya terlihat dari sekitar wilayah pesisir, tetapi juga tampak dari Depan Kantor Kecamatan Sambelia (kalau penasaran silahkan dibuktikan langsung). Namun ada hubungan apa antara posisi Kantor Kecamatan dengan mercusuar tersebut, saya tidak bisa menafsirkannya terlalu jauh.

    Posisi dan Perbatasan
    Secara administratif Gili atau Pulau Lampu saat ini termasuk dalam wilayah Desa Labuan Pandan Kecamatan Sambelia Lombok Timur, posisinya sekitar 2 Km di sebelah timur Dusun Transad. Secara komposisi pulau ini lebih tepat disebut sebagai gugusan karang, karena jenis vegetasi yang dominan tumbuh di atasnya juga hanya pohon bakau. Di sebelah timur Pulau Lampu berbatasan dengan Selat Alas, kemudian di utaranya terdapat Gili Petagan yang berukuran sedikit lebih besar, dan di sebelah selatan ada beberapa gugusan pulau kecil yang masyarakat setempat menamainya Gili Lebur. Kuat dugaan sebelumnya pulau-pulau ini merupakan satu kesatuan. Namun akibat arus pasang dan naiknya permukaan air laut, menyebabkan gugusan pulau karang ini seolah terpisah satu sama lainnya.

    Perkembangan Fungsi
    Sekitar tahun 1970-an, Pulau Lampu hanyalah tempat peristirahatan para nelayan yang kebetulan sedang mencari ikan di perairan sekitarnya. Pada waktu itu penggunanya kebanyakan adalah nelayan setempat, yaitu dari Labuan Pandan, sebagian kecil dari Dusun Tibu Borok dan sekitarnya, serta nelayan luar seperti dari Labuan Lombok, Tanjung Teros, Labuan Haji, atau Pulau Sumbawa. Demikian pula dengan pantainya, komunitas nelayan atau warga setempat lebih banyak memanfaatkannya untuk pelabuhan perahu dan sampan atau sekedar untuk mencari nener (bibit bandeng).
    Tetapi memasuki pertengahan tahun 1980-an, pemanfaatan obyek Pulau Lampu mengalami perkembangan proyeksi. Tidak hanya sebatas aktivitas nelayan dan budidaya perikanan, tetapi lebih didorong kearah kepariwisataan. Masyarakat sekitar terutama dari Dusun Transad yang pada dasarnya tidak berlatar belakang nelayan mulai tertarik melakukan pengembangan, antara lain dengan membersihkan dan menata pantai sehingga nyaman untuk rekreasi. Beberapa fasilitas meskipun alakadar (minimalis) mulai disediakan, seperti tempat pedagang makanan dan minuman ringan, membuat sumur pembilasan, tempat ganti pakaian, dan toilet umum.
    Kemudian pada tahun 1990-an, selain menyediakan penginapan seperti bungalow-bungalow, kelompok pengelola setempat yang dimotori Mas Yanto dkk terus melakukan pembenahan, misalnya dengan menyediakan paket penyeberangan ke Gili atau perjalanan antar lokasi wisata pantai di Pulau Lombok. Pada waktu itu kerjasama sudah dilakukan dengan agen tour and travel ternama, seperti "Perama".

    Wisatawan Pengunjung
    Pada awalnya wisatawan yang berkunjung hanya sebatas masyarakat setempat, seperti dari beberapa dusun tetangga se-Desa Sambelia atau dari desa-desa lain se-Kecamatan Sambelia. Inipun hanya diwaktu-waktu tertentu, misalnya piknik saat kenaikan kelas Sekolah Dasar, perayaan Idul Fitri, Idul Adha, atau liburan tahun baru. Tetapi lambat laun, pengunjung dari luar juga mulai berbondong-bondong, seperti dari Kecamatan Pringgabaya, Aikmel, Masbagik, Selong, dll. Bahkan seiring waktu dan gencarnya promosi yang dilakukan tokoh pemuda bersama pemerintah setempat dan swasta, alhasil jumlah kunjungan wisata ke Pulau Lampu meningkat dengan sangat pesat.

    Daya Tarik Kepariwisataan
    Saat ini obyek wisata Pulau Lampu sudah lebih dari cukup terkenal, khususnya sebagai salah satu destinasi wisata pantai yang ada di Pulau Lombok. Dalam promosi paket tour wisata yang disebutkan adalah "Pulau Lampu", tetapi sepertinya yang lebih dominan wisata pantai. Selain bisa mandi dan berenang dengan aman di pantai, ketertarikan wisatawan lokal kebanyakan berkunjung kesana mungkin karena sensasi nama "Pulau Lampu". Sedangkan bagi wisatawan luar atau mancanegara, yang menjadi magnet bukanlah sekedar nama itu, melainkan karena disana mereka bisa menikmati "sunrise". Secara analogi, kalau pariwisata di Bali punya Sanur dan Kuta untuk melihat sunrise dan sunset, maka pariwisata Lombok memiliki Pulau Lampu dan Senggigi untuk menikmati sunrise dan sunset. Kira-kira begitulah ilustrasinya walaupun pada kenyataan kondisi sangat jauh dari kata seimbang, khususnya untuk fasilitas pendukung.
    Tetapi bagaimanapun, inisiatif dan keberhasilan yang dicapai Masyarakat Sambelia terutama para pemuda di Dusun Transad ini patut mendapatkan apresiasi. Sebuah karya anak bangsa, yang sudah sepantasnya para pihak mendukung untuk pengembangan wisata daerah NTB, serta peningkatan manfaat yang seluasnya bagi masyarakat sekitar. Jika ingin lebih sukses, maka masih banyak yang perlu dilakukan bersama, misalnya bagaimana mengemas budaya dan produk lokal yang ada menjadi paket wisata guna meningkatkan pesona dan daya tarik kepariwisataan. Sudah barang tentu, semua itu harus dimulai dari sekarang hingga masa-masa selanjutnya (WG).

    Sambelia, Lombok Timur

    Sambelia adalah sebuah desa yang berada di Bagian Timur Laut Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat Indonesia. Sejak zaman sebelum kemerdekaan desa ini sudah menjadi kampung induk atau perkampungan yang tertua diantara kampung-kampung yang ada di sekitarnya. Barangkali karena latar belakang itu pula, maka kecamatannya pun memakai nama Kecamatan Sambelia.

    Nenek Moyang
    Untuk menemukenali nenek moyang atau siapa penduduk asli Desa Sambelia sepertinya agak sulit. Kalaupun hendak ditelusuri lebih jauh, kemungkinan yang didapat adalah mereka yang juga termasuk pendatang dari wilayah sekitar atau luar daerah. Ambil contoh, warga Dusun Gubuk Daya dan Gubuk Lauk yang berada di pusat desa atau warga Dusun Dasan Bagik, cikal bakal mereka kebanyakan adalah dari Pringgabaya dan Apitaik, dan sebagian kecil berasal dari Mamben, Aikmel, Masbagik dan sekitarnya, termasuk dari Bayan Lombok Utara juga ada. Kemudian warga Dusun Senanggalih, kebanyakan adalah dari wilayah Sakra, dan sebagian kecil dari sekitar Lombok Tengah. Sedangkan warga Dusun Labuan Pandan, selain dihuni pendatang dari wilayah sekitar, juga diketahui ada kelompok masyarakat Bugis Makasar yang tinggal lebih awal, dan kebanyakan berprofesi nelayan.

    Kedatangan Penduduk
    Di era 1960-1970an, komposisi dan jumlah pendatang baru di Sambelia terus bertambah. Diketahui ada komplek Transmigrasi Angkatan Darat (Transad) yang dibangun dekat perbatasan atau pintu masuk wilayah kecamatan di bagian selatan. Kemudian dengan kebijakan pemerintah melalui program pendistribusian tenaga pegawai seperti guru sekolah dasar, polisi, pertanian, kehutanan, perkebunan, perpajakan, dsb. Pada awal tahun 1980-an dengan dibangunnya Sekolah Lanjutan Pertama, rombongan guru-guru SLTP juga mulai berdatangan. Pada umumnya mereka tinggal dan menjadi penduduk tetap di Sambelia. Selain itu, berkembangnya dunia bisnis transportasi dan perdagangan juga turut andil mewarnai pertumbuhan penduduk di desa ini. Perkembangan pasar misalnya, terbukti telah memikat para pendatang seperti dari Apitaik, Masbagik dan sekitarnya untuk berdagang dan mengadu nasib di Sambelia. Pola yang sama juga sebenaranya terjadi di desa-desa sekitar, seperti Obel-Obel dan Belanting yang warganya kebanyakan dari Bayan, Apitaik, Mamben, Pringgasela dan sekitarnya. Relatif mudah untuk mengetahui dari mana warga itu berasal, yaitu dari dialek bahasa yang mereka gunakan sehari-hari (WG).