Rabu, 22 Agustus 2012

Dream



Oriza Sativa
Aku menggantungkan kebahagiaan mereka padamu ya Robbi . . .

Senin, 20 Agustus 2012

The Way of My Live

Free
Tommy Garden
Aku menanam semua ini untukmu...
dan aku bagikan sebagian dari yang diberikan untuk kita... juga untukmu... 

Perjalanan ini sudah cukup panjang, entah sudah berapa kali aku terjatuh dan terbangun. Tapi aku merasa belum maksimal meraih impian. Selalu merefleksi, bahwa semua itu tak mungkin hanya dengan bim-salabim, melainkan harus bertahap... dengan proses.
Yang terpenting proses itu benar menuju impian.
Mungkin juga akan banyak kendala hambatan yang merintang, terutama godaan yang justru seringkali kuasa membelokkan arah. Sehingga harus lebih fokus dalam melangkah kedepan.

Hidup laksana game atau permainan, jika tidak terkendali dengan cerdas maka akan berujung pada kekalahan yang menimbulkan sesal dan menyakitkan. Tapi harus diingat juga bahwa hidup bukanlah sesuatu yang boleh dipermainkan sembarangan. Dalam hidup juga terkandung jutaan aura dan rasa, yang menyatu dan melibatkan mata, hati, dan pikiran lainnya. Karena itu dengan memaksimalkan sebagai pemberi manfaat dan bukan sekedar penerima, mungkin akan jauh lebih baik . . .

Senin, 13 Agustus 2012

Wajah LSM di NTB

Di awal dekade 2000-an, saya pernah membaca sebuah "tulisan misterius" yang beredar di internet, dan menjadi perbincangan hangat di kalangan teman seperjuangan. Judul tulisan itu kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Saya menyebutnya misterius karena, pertama; substansi tulisan itu bernada reaksi terhadap program yang pada waktu itu cukup populer di wilayah ini, dan kedua; sang penulis tidak meninggalkan jejak "identitas" sedikitpun pada karya tulisnya itu.

Ungkapan yang disampaikan dengan cara sembunyi-sembunyi tentu menimbulkan berbagai macam praduga. Terutama sekali menyangkut siapa dia dan apa sejatinya yang diinginkan oleh tuan tokoh sang penggugat? Pertanyaan stereotifnya, mungkinkah respon tersebut buah dari ketidaksempatan mengakses apa yang diinginkan? dsb...? Menimbang beberapa analisis dan menyimak dari gaya tulisannya, memang terlintas beberapa nama yang diduga kuat sebagai aktor utama. Hanya saja, tidak akan pernah ada bukti yang kuat untuk menunjuk hidung sang penggugat misterius tersebut.

Kali ini, saya mencoba menulis dengan judul yang serupa. Tetapi tentu bukan counter attack terhadap tulisan itu, melainkan lebih dihajatkan untuk mendokumentasikan kondisi saat ini. Sebagai refleksi dan pembelajaran bersama boleh jadi hal ini memberi warna penting. Karena dari pengamatan sejak satu dekade terakhir, saya mencatat beberapa penampakan LSM di NTB, antara lain: ada yang ber-LSM sebagai tempat menempa diri dan mencari pengalaman, ada yang ber-LSM sebagai batu loncatan, ada yang ber-LSM sebagai sampingan, ada yang ber-LSM sebagai tumpuan, ada yang ber-LSM sekedar tempat bermain, ada yang ber-LSM dengan strategi bersolo karier, ada yang sangat idealis dan menjadi pertapa di lembaganya, ada yang hidup segan pingsan juga nggak jelas, ada yang pergi karena sudah naik pangkat, dll...

Dinamika yang menjadi latar belakangnya pun sangat beragam. Dan kita sering mendapatkan jawaban bahwa semua itu atas nama perubahan dan kenyataan yang menstandarkan segala seuatu secara realistis.

    Minggu, 05 Agustus 2012

    Pusaka Yang Hilang

    Satu persatu pusaka itu pergi
    Terselip pelajaran yang tiada terkira
    Sebatas do'a yang kupersembahkan
    Mengiringi langkahmu...
    Kiranya TYME, memberi jalan yang terang...
    Menegarkan langkah arungi bahtera
    Menjunjung tinggi amanat yang kau titipkan
    Pada kami...
    Selamat Jalan Wahai Kanda...
    Kami pasti merindukan semuanya

    Senin, 30 Juli 2012

    Munajat Pagi

    Bercengkrama diantara kombinasi D, G & A
    Teralun varian nada yang indah
    Tak kalah syahdu dari orchestra sang kampiun 
    Singgah di beberapa titik imajiner "tanpa harus lari terlalu jauh"
    Semakin bersensasi walau tak bersyair 
    Irama itu laksana hati yang tercurah 
    Mengalir bebas dan merdeka 
    Mengiringi angan yang menerawang
    Diantara ketakjuban pada riangnya maha pagi
    Ada apa di sana...??? sebuah tanya yang termunajatkan padaNYA
    Yang terjawab... walau dengan isyarat yang membisu

    Jumat, 27 Juli 2012

    Pada Waktu Yang Tak Bersahabat

    Sebaiknya kau simpan perhiasan itu, karena mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menggunakannya
    Biarlah waktu yang menjawab, diantara doa-doa yang termunajatkan kepadaNYA 
    Tepislah kerinduan yang membayangi itu, terima sebagai pondasi yang mempertebal ikhlasmu walaupun perih
    Jangan pernah tergoda hanya oleh bisikan-bisikan, yang mungkin menari diantara mata dan telinga
    Tetaplah yakin pada intuisi, hati dan sanubarimu

    Selasa, 17 Juli 2012

    Gili Lampu

    Gili Lampu adalah nama sebuah destinasi wisata pantai cukup populer yang berada di Sambelia, salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat Indonesia. Berdasarkan susunan katanya Gili Lampu berasal dari kata "Gili" yang berarti Pulau dan "Lampu" yang bisa berarti Penerang. Bisa jadi selama ini banyak orang membayangkan Gili Lampu itu seperti pulau yang dipenuhi dengan lampu-lampu. Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. "Gili Lampu" sebenarnya merupakan pulau kecil dimana terdapat mercusuar tanda penerang atau rambu-rambu lalu lintas laut dan hilir mudik pelayaran di sekitarnya. Menurut keterangan tokoh masyarakat di Sambelia, mercusuar itu sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang, dan kondisinya hingga kini masih berfungsi. Pada malam hari kerlip pijar dari mercusuar tidak hanya terlihat dari sekitar wilayah pesisir, tetapi juga tampak dari Depan Kantor Kecamatan Sambelia (kalau penasaran silahkan dibuktikan langsung). Namun ada hubungan apa antara posisi Kantor Kecamatan dengan mercusuar tersebut, saya tidak bisa menafsirkannya terlalu jauh.

    Posisi dan Perbatasan
    Secara administratif Gili atau Pulau Lampu saat ini termasuk dalam wilayah Desa Labuan Pandan Kecamatan Sambelia Lombok Timur, posisinya sekitar 2 Km di sebelah timur Dusun Transad. Secara komposisi pulau ini lebih tepat disebut sebagai gugusan karang, karena jenis vegetasi yang dominan tumbuh di atasnya juga hanya pohon bakau. Di sebelah timur Pulau Lampu berbatasan dengan Selat Alas, kemudian di utaranya terdapat Gili Petagan yang berukuran sedikit lebih besar, dan di sebelah selatan ada beberapa gugusan pulau kecil yang masyarakat setempat menamainya Gili Lebur. Kuat dugaan sebelumnya pulau-pulau ini merupakan satu kesatuan. Namun akibat arus pasang dan naiknya permukaan air laut, menyebabkan gugusan pulau karang ini seolah terpisah satu sama lainnya.

    Perkembangan Fungsi
    Sekitar tahun 1970-an, Pulau Lampu hanyalah tempat peristirahatan para nelayan yang kebetulan sedang mencari ikan di perairan sekitarnya. Pada waktu itu penggunanya kebanyakan adalah nelayan setempat, yaitu dari Labuan Pandan, sebagian kecil dari Dusun Tibu Borok dan sekitarnya, serta nelayan luar seperti dari Labuan Lombok, Tanjung Teros, Labuan Haji, atau Pulau Sumbawa. Demikian pula dengan pantainya, komunitas nelayan atau warga setempat lebih banyak memanfaatkannya untuk pelabuhan perahu dan sampan atau sekedar untuk mencari nener (bibit bandeng).
    Tetapi memasuki pertengahan tahun 1980-an, pemanfaatan obyek Pulau Lampu mengalami perkembangan proyeksi. Tidak hanya sebatas aktivitas nelayan dan budidaya perikanan, tetapi lebih didorong kearah kepariwisataan. Masyarakat sekitar terutama dari Dusun Transad yang pada dasarnya tidak berlatar belakang nelayan mulai tertarik melakukan pengembangan, antara lain dengan membersihkan dan menata pantai sehingga nyaman untuk rekreasi. Beberapa fasilitas meskipun alakadar (minimalis) mulai disediakan, seperti tempat pedagang makanan dan minuman ringan, membuat sumur pembilasan, tempat ganti pakaian, dan toilet umum.
    Kemudian pada tahun 1990-an, selain menyediakan penginapan seperti bungalow-bungalow, kelompok pengelola setempat yang dimotori Mas Yanto dkk terus melakukan pembenahan, misalnya dengan menyediakan paket penyeberangan ke Gili atau perjalanan antar lokasi wisata pantai di Pulau Lombok. Pada waktu itu kerjasama sudah dilakukan dengan agen tour and travel ternama, seperti "Perama".

    Wisatawan Pengunjung
    Pada awalnya wisatawan yang berkunjung hanya sebatas masyarakat setempat, seperti dari beberapa dusun tetangga se-Desa Sambelia atau dari desa-desa lain se-Kecamatan Sambelia. Inipun hanya diwaktu-waktu tertentu, misalnya piknik saat kenaikan kelas Sekolah Dasar, perayaan Idul Fitri, Idul Adha, atau liburan tahun baru. Tetapi lambat laun, pengunjung dari luar juga mulai berbondong-bondong, seperti dari Kecamatan Pringgabaya, Aikmel, Masbagik, Selong, dll. Bahkan seiring waktu dan gencarnya promosi yang dilakukan tokoh pemuda bersama pemerintah setempat dan swasta, alhasil jumlah kunjungan wisata ke Pulau Lampu meningkat dengan sangat pesat.

    Daya Tarik Kepariwisataan
    Saat ini obyek wisata Pulau Lampu sudah lebih dari cukup terkenal, khususnya sebagai salah satu destinasi wisata pantai yang ada di Pulau Lombok. Dalam promosi paket tour wisata yang disebutkan adalah "Pulau Lampu", tetapi sepertinya yang lebih dominan wisata pantai. Selain bisa mandi dan berenang dengan aman di pantai, ketertarikan wisatawan lokal kebanyakan berkunjung kesana mungkin karena sensasi nama "Pulau Lampu". Sedangkan bagi wisatawan luar atau mancanegara, yang menjadi magnet bukanlah sekedar nama itu, melainkan karena disana mereka bisa menikmati "sunrise". Secara analogi, kalau pariwisata di Bali punya Sanur dan Kuta untuk melihat sunrise dan sunset, maka pariwisata Lombok memiliki Pulau Lampu dan Senggigi untuk menikmati sunrise dan sunset. Kira-kira begitulah ilustrasinya walaupun pada kenyataan kondisi sangat jauh dari kata seimbang, khususnya untuk fasilitas pendukung.
    Tetapi bagaimanapun, inisiatif dan keberhasilan yang dicapai Masyarakat Sambelia terutama para pemuda di Dusun Transad ini patut mendapatkan apresiasi. Sebuah karya anak bangsa, yang sudah sepantasnya para pihak mendukung untuk pengembangan wisata daerah NTB, serta peningkatan manfaat yang seluasnya bagi masyarakat sekitar. Jika ingin lebih sukses, maka masih banyak yang perlu dilakukan bersama, misalnya bagaimana mengemas budaya dan produk lokal yang ada menjadi paket wisata guna meningkatkan pesona dan daya tarik kepariwisataan. Sudah barang tentu, semua itu harus dimulai dari sekarang hingga masa-masa selanjutnya (WG).