Selasa, 11 Januari 2011

Cinta Pertama

Aku menunduk menyembunyikan wajah dari tangannya. Perasaannku hanya belum sanggup . . . . . .
Dia memandangku beberapa detik, dan tampak berpikir. Lalu dia pelan-pelan mengangguk, sembari berujar, “Baiklah, aku mengerti”.
Bagaimanapun aku merasa dia tidak terlalu mengerti apa yang kurasakan. Tapi kenyataannya, dia meluluskan keinginanku. Dan itu sungguh-sungguh membuatku terharu. Suara perempuan itu terdengar tulus, tubuhku rileks. Aku pun meluruskan kaki dan mengendurkan seluruh otot nadiku.
“Boleh aku menciummu?” ujarnya singkat.
“Ndak tau,” kataku ragu. Suaraku tak lebih dari sekedar bisikan. Aku telah bersamanya begitu lama, bahkan aku terlalu mengistimewakannya di singgasana hatiku. Tapi aneh, rasanya aku seperti tidak mengenalnya sama sekali. Semua tampak bimbang . . . .
“Aku ingin mempercayaimu”.
“Aku bukan perempuan sempurna, Mas. Aku janji untuk tidak berbuat bodoh yang menyakiti perasaanmu”. Dia menarik kedua lenganku. “Boleh aku menciummu?” ulangnya.
Aku memilih tidak menjawab. Dia mencium pipiku cepat. Lalu mulai menciumi leher hingga tengkukku. Walau sedikit ragu, aku membalasnya perlahan. Sensasi mirip ledakan menggelegar di kepalaku. Sensasi lain serasa pijar menyala yang mendapat rangsangan dan berkobar.
Aku melihat pelangi berwarna-warni, dengan seribu spektrum berjejal di mataku, lalu turun dan merasuk dalam denyut nadiku. Jika seseorang mampu menjahit puisi di setiap lekukan benang, aku akan melakukannya, menjahit puisi dengan benang pelangi. Menciptakan skaf hangat yang melindungi tubuh telanjangku dalam kedinginan dan rindu belaian kasih.
Dia mengusapku perlahan, lalu turun ke bawah. Aku tersipu dan gugup ketika dengan beraninya menantang hasratku. Dia mencium penuh perasaan, membelai lembut nadiku penuh gelora.
“Sayang, aku sangat mencintaimu,” bisiknya.
Aku tetap terdiam untuk tidak menjawab apapun demi bimbangku. Aku hanya membalas, merapatkan tubuh hangatnya ke tubuhku. Dahaga terasa, haus tak terperi. Belum pernah bertahun-tahun aku merasa terhanyut, menyala dan terpacu untuk tidak segera tuntas seperti saat ini. Belum pernah bertahun-tahun aku merasa damai seperti yang kurasa saat ini.
Satu lenguhan melompat,  tertahan penuh rasa nyaman, saat tubuhku bergetar dalam dekapnya.
Sambil mengintip dari pelukan, aku melihat awan putih berarak di langit biru. Persis seperti tadi. Tidak berubah. Tapi aneh, kali ini awan itu tampak seperti bentang lukisan yang tak terperi indahnya.
“Jawab aku, bisikku mendalam. “Bagaimana aku bisa menemukanmu?”.
“Mudah,” jawabnya sambil tersenyum. “Karena aku mengenalmu luar dan dalam. Aku tahu apa yang kamu pikirkan”.
Dia merengkuhku kembali erat. Menciumku tanpa jeda sedikitpun. Dengan gerakan lembut, perempuan itu mulai mengisi hidupku, mengisi seluruh hati dan jiwaku. Sesuatu yang telah patah tersambung kembali.
Mungkin benar, dia perempuan yang sebenarnya dalam jiwaku. Dia hapal apa yang ada di separuh jiwaku yang lain.
Di luar sana, langit perlahan berganti tirai menjadi rembang petang, saat kami jatuh tertidur di peraduan, telanjang dan kebahagiaan . . . .
Saat tersadar dalam bangunku tersenyum . . . . Oh Tuhan, ..... betapa dia telah membuatku bahagia, walau hanya dalam mimpi . . . . . . Terima Kasih.