Selasa, 28 Desember 2010

Betapa Hidup Ini Sedemikian Rumit

Seorang nenek berambut putih berdiri di depan meja, tempat dimana Ana (istriku) menjalankan profesi hari-harinya sebagai pengecer sembako. Waktu itu Ana kelihatan sibuk sekali melayani pelanggan, yang hmm… semua seperti tidak sabaran. Akhirnya ya sudahlah, aku menawarkan diri untuk melayani si nenek.
Mau beli apa nek? tanyaku bersemangat.
Beli minyak nak, 2 ribu saja, jawab nenek itu singkat.
Oh ya, sini saya buatkan, sapaku sambil melempar senyum agar si nenek santai.
Sepintas tampak keriput di wajahnya, pertanda orang ini kenyang pahit-manis dan asam-garamnya kehidupan.
Aku meraih torong, lalu menuangkan beberapa centong minyak dalam plastik 1/2 kiloan. Setelah menimbang, bungkusan kurapikan dan masukkan ke kresek.
Ini nek, pesanannya dah jadi, kataku menyodorkan bungkusan kresek hitam.
Si nenek hanya diam, lalu tersenyum aneh sambil gelengkan kepala.
Endak, endak gitu nak . . . katanya terbata.
Aku lantas berpikir, hmm… apa timbanganku kurang yah?. Lalu bungkusan kubuka lagi, dan menambahkan beberapa centong ke dalamnya.
Ini sudah banyak, pasti cukup buat 2-3 hari, candaku pada si nenek.
Ternyata nenek itu tetap menggeleng, bahkan bahasa tubuhnya terkesan menertawakanku.
Aku jadi bingung, putus asa, nyerah deh… "Na... ini gemana, ndak ngerti nih, help. . . . !!!
Ya, yaaa . . . tunggu sebentar, sahut istriku. 
Tak lama kemudian, Ana datang dan meraih beberapa plastik kecil.
Dengan trampil dia menuangkan minyak goreng, secentong 2 centong hingga plastik-plastik itu penuh. Dia tampak santai melayani permintaan si nenek, bahkan tak perlu menakarnya satu persatu. Aku coba perhatikan, dan porsinya memang tampak sama.
Satu hal yang ingin kuketahui, apa sih maunya si nenek?. Aku benar-benar belum faham, dan tidak habis pikir juga kenapa bungkusannya kecil-kecil? Kan repot, harus mengisi berulangkali dengan plastik sekecil-kecil itu, bisikku.
Setelah beres, Ana menyerahkan ke-5 bungkusan itu sambil menghitung recehan si nenek yang diletakkan di atas meja. Si nenek pun bergegas pergi dengan bakulnya yang penuh benda-benda seperti mie goreng, sabun dan bungkusan lain yang aku tak tahu apa isinya. Dari kesigapannya tampak dia buru-buru ingin segera pulang.
Aku hanya bisa memandangi Ana, dan itu menyadarkanku kembali akan gurat2 cantiknya. 
Terima kasih Tuhan, Engkau telah kirimkan aku Malaikat pendamping. 
Ana lalu cerita, gini mas . . . si nenek tadi beli minyak 2 ribu, minta jadi 5 bungkus. Setiap hari begitu. Nanti di rumahnya minyak itu dijual 5 ratusan, dia kan dapat yang sebungkus. Mungkin bisa buat goreng teri, sambel, dll. Kalau yang 4 bungkus sudah laku, besok dia beli 5 bungkus lagi disini, begitu... dst.
Ooooh Tuhan,… aku tertegun mendengarnya.
Betapa hidup ini sedemikian rumit, hingga si nenek harus berkelit untuk hari2nya. Dia mesti berputar dengan bungkus demi bungkus minyak sekecil itu, sekedar untuk gorengan teri dan sambel. Lalu bagaimana dia memikirkan pendidikan, ongkos obat dan uang jajan anak cucu yang tentu sangat ia sayangi. Di sekeliling tempat tinggalnya, tentu juga banyak yang seperti itu.
Akhirnya aku berdoa dalam hati; Tuhan, terima kasih... Engkau telah berikan aku tempat yang begitu istimewa. Ampuni khilafanku, orang tua dan saudara2ku. Bagaimanapun mereka telah mendidik kami dengan cinta dan penuh kasih, hingga seperti ini.
Hanya engkaulah Yang Maha Penentu, segala di alam ini.
Mataram, 29 Desember 2010