Seorang nenek berambut putih berdiri di
depan meja, tempat dimana Ana (istriku) menjalankan profesi hari-harinya sebagai pengecer
sembako. Waktu itu Ana kelihatan sibuk sekali
melayani pelanggan, yang hmm…
semua seperti tidak sabaran. Akhirnya ya sudahlah, aku menawarkan diri untuk melayani si nenek.
Mau beli apa nek? tanyaku bersemangat.
Beli minyak nak, 2 ribu saja, jawab nenek itu singkat.
Oh ya, sini saya buatkan, sapaku sambil
melempar senyum agar si nenek santai.
Sepintas tampak keriput di wajahnya, pertanda orang ini kenyang
pahit-manis dan asam-garamnya kehidupan.
Aku meraih torong, lalu menuangkan
beberapa centong minyak dalam plastik 1/2 kiloan. Setelah menimbang, bungkusan
kurapikan dan masukkan ke kresek.
Ini nek, pesanannya dah jadi, kataku menyodorkan
bungkusan kresek hitam.
Si nenek hanya diam, lalu tersenyum aneh
sambil gelengkan kepala.
Endak, endak gitu nak . . . katanya
terbata.
Aku lantas berpikir, hmm… apa timbanganku kurang yah?. Lalu bungkusan kubuka lagi, dan menambahkan beberapa centong ke dalamnya.
Ini sudah
banyak, pasti cukup
buat 2-3 hari, candaku pada si nenek.
Ternyata nenek itu tetap menggeleng,
bahkan bahasa tubuhnya terkesan menertawakanku.
Aku jadi bingung, putus asa, nyerah
deh… "Na... ini gemana, ndak ngerti nih, help. . . . !!!
Ya, yaaa . . . tunggu sebentar,
sahut istriku.
Tak lama kemudian, Ana datang dan
meraih beberapa plastik kecil.
Dengan trampil dia menuangkan minyak goreng,
secentong 2 centong
hingga plastik-plastik itu penuh. Dia
tampak santai melayani permintaan si nenek, bahkan tak perlu menakarnya
satu persatu. Aku coba perhatikan, dan
porsinya memang tampak sama.
Satu hal yang ingin kuketahui, apa sih maunya si nenek?. Aku benar-benar belum faham, dan tidak
habis pikir juga kenapa
bungkusannya kecil-kecil? Kan repot, harus
mengisi berulangkali dengan
plastik sekecil-kecil itu, bisikku.
Setelah beres, Ana menyerahkan ke-5 bungkusan itu sambil menghitung
recehan si nenek yang diletakkan di atas meja. Si nenek
pun bergegas pergi dengan bakulnya yang penuh benda-benda seperti mie goreng,
sabun dan bungkusan lain yang aku tak tahu apa isinya. Dari
kesigapannya tampak dia buru-buru ingin
segera pulang.
Aku hanya bisa memandangi Ana, dan
itu menyadarkanku kembali akan gurat2 cantiknya.
Terima kasih Tuhan, Engkau telah kirimkan aku Malaikat pendamping.
Ana lalu cerita, gini
mas . . . si nenek tadi beli minyak 2 ribu, minta jadi 5 bungkus. Setiap hari begitu. Nanti di rumahnya minyak itu dijual 5 ratusan, dia kan dapat yang
sebungkus. Mungkin bisa
buat goreng teri, sambel, dll. Kalau yang 4 bungkus sudah laku, besok dia beli 5 bungkus lagi disini, begitu... dst.
Ooooh Tuhan,… aku tertegun mendengarnya.
Betapa hidup ini sedemikian rumit, hingga si nenek harus
berkelit untuk hari2nya.
Dia mesti berputar dengan bungkus demi bungkus minyak sekecil itu, sekedar untuk
gorengan teri dan sambel. Lalu
bagaimana dia memikirkan pendidikan, ongkos obat dan uang jajan anak cucu
yang tentu sangat ia sayangi. Di
sekeliling tempat tinggalnya, tentu juga banyak yang seperti itu.
Akhirnya
aku berdoa dalam hati; Tuhan,
terima kasih... Engkau telah berikan aku tempat yang begitu istimewa. Ampuni
khilafanku, orang tua dan saudara2ku. Bagaimanapun mereka telah mendidik kami
dengan cinta dan penuh kasih,
hingga seperti ini.
Hanya engkaulah Yang Maha Penentu, segala
di alam ini.
Mataram, 29 Desember 2010